Kamis, 18 September 2025

cara agar tidak mudah dibohongi

 

Seberapa sering kita tertipu oleh kebohongan seseorang dalam hidup kita, baik dalam hubungan, dalam transaksi bisnis, atau bahkan janji yang diingkari? Mengapa kita begitu sering menjadi korban orang yang sengaja, atau tidak sengaja, berbohong atau menyesatkan kita?
Melansir dari Psychology Today, terkadang, kebohongan sulit dideteksi, apalagi jika orang yang melakukannya pandai menyembunyikan kebohongan tersebut. Nah, supaya kamu tidak mudah dibohongi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk lebih jeli dalam menghadapi orang lain.
1. Perhatikan Bahasa Tubuh Lawan Bicara.
Orang yang berbohong sering kali menunjukkan tanda-tanda dari bahasa tubuhnya. Misalnya, mereka menghindari kontak mata, terlihat gelisah, atau sering memainkan tangan. Jika kamu merasa ada sesuatu yang tidak beres, coba amati gerak-gerik mereka lebih teliti.
2. Jangan Langsung Percaya Pada Cerita yang Terlalu Indah.
Jika seseorang menceritakan sesuatu yang terdengar terlalu sempurna atau sulit dipercaya, jangan langsung menelan mentah-mentah. Berikan jeda untuk berpikir dan cari fakta yang mendukung cerita tersebut. Ingat, penipu sering memanfaatkan sisi emosional orang lain untuk meyakinkan kebohongannya.
3. Ajukan Pertanyaan yang Spesifik.
Saat seseorang mencoba membohongi, mereka sering kesulitan memberikan detail yang konsisten. Maka dari itu, ajukan pertanyaan yang lebih spesifik dan perhatikan jawabannya. Jika jawabannya berubah-ubah atau tidak masuk akal, itu bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
4. Jangan Terlalu Mudah Memberi Kepercayaan.
Kepercayaan itu mahal, jadi jangan memberikannya dengan mudah. Meski kita ingin berpikir positif tentang orang lain, tetap penting untuk menjaga batasan. Kenali seseorang lebih dalam sebelum memberikan kepercayaan penuh.
5. Belajar Mengenali Pola Kebohongan.
Biasanya, orang yang suka berbohong memiliki pola tertentu. Mereka cenderung berbelit-belit saat berbicara, menghindari tanggung jawab, atau terlalu defensif ketika ditanya. Jika kamu sering mendapati pola ini pada seseorang, berhati-hatilah.
6. Jangan Terlalu Cepat Bereaksi.
Ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan atau menggugah emosi, ambil waktu untuk berpikir sebelum bereaksi. Penipu sering kali memanfaatkan reaksi spontan untuk mengalihkan perhatianmu dari kebohongan mereka.
7. Andalkan Intuisi.
Terkadang, perasaanmu sudah memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Jangan abaikan intuisi ini, karena sering kali itu adalah alarm alami untuk melindungimu dari bahaya. Jika ada yang terasa janggal, tidak ada salahnya untuk lebih waspada.
8. Cari Informasi Tambahan.
Jika seseorang menyampaikan sesuatu yang penting atau mencurigakan, coba cari tahu lebih banyak. Gunakan sumber lain untuk memverifikasi informasi yang kamu dapatkan. Semakin banyak fakta yang kamu miliki, semakin kecil kemungkinan untuk tertipu.
9. Kenali Sifat Manipulatif.
Orang yang suka membohongi sering pandai memanipulasi. Mereka mungkin membuatmu merasa bersalah, menekanmu untuk mengambil keputusan cepat, atau membuat janji-janji kosong. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam trik seperti ini.
Berhati-hati bukan berarti kamu menjadi terlalu curiga, kamu hanya perlu lebih bijaksana dan waspada. Dengan cara ini, kamu bisa melindungi diri dari kebohongan yang mungkin datang dari mana saja. Tetap tenang, tetap cerdas, dan jangan lupa percaya pada diri sendiri.

Rabu, 17 September 2025

Kalau anak kita cerdas visual spasial

 

Pengertian Kecerdasan Visual Spasial

Setiap Anak yang lahir memiliki kemampuan kecerdasan yang berbeda-beda dan anak juga dibekali kecerdasan untuk menghadapi masalah-masalah yang akan ia hadapi dalam kehidupan nyata sehari-harinya dengan menghasilkan sesuatu yang berarga dalam dirinya. Menurut Musfiroh (2008) kecerdasan visual-spasial ditandai dengan kepekaan mempersepsi secara akurat dan mentransformasi persepsi awal, seseorang yang memiliki kecerdasan ini cenderung menyukai bangunan, apresiasi seni, desain, dan efektif dalam membuat koordinasi warna, membuat bentuk, menciptakan serta dapat membayangkan secara detil benda-benda, dan juga seorang yang cenderung memliki kecerdasan visual-spasial suka melukis, membuat sketsa, bermain game ruang, berpikir dalam image atau bentuk. Anak-anak dengan kemampuan kecerdasan visual spasial cenderung akan berpikir dan berimajinasi.

Menurut Musfiroh (2008) Kecerdasan visual spasial berhubungan dengan kemampuan mengenal warna, bentuk, ukuran serta ruang yang akurat dapat mengubah penangkapannya melalui bentuk lain yaitu dekorasi, arsitektur, lukisan dan patung. Hal ini artinya anak senang membayangkan sesuatu dengan daya khayalnya dan menuangkannya melalui karya seni dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi (Sulistiyani, 2012). Kecerdasan visual spasial pada anak merupakan kemampuan berfikir, memahami dan memproses suatu dalam bentuk visual (nyata).Seseorang dengan kecerdasan visual spasial akan mempunyai kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan, harmoni, pola dan hubungan antar unsur kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan (Amstrong 2008).

Dari beberapa pendapat diatas terkait definisi kecerdasan visual spasial dapat disimpulkan bahwa kecerdasan visual spasialatau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai kemampuan mempersepsi dunia visual-spasial secara akurat serta mentransformasikan persepsi dunia visual-spaial tersebut dalam berbagai bentuk. Anak mampu memvisualisasikan kembali apa yang dilihatnya baik melalui gambar, atau objek secara langsung dan menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah karya. Kecerdasan visual spasial ini berhubungan dengan kemampuan mengenal warna, bentuk, ukuran.

Karteristik Kecerdasan Visual Spasial

Anak usia dini memiliki kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat. Menurut Sefrina (2013) anak dengan kecerdasan visual spasialmenonjol memiliki ciri yang berhubungan dengan gambar dan ruang, oleh karena itu kadang disebut dengan anak dengan cerdas gambar. Ciri pertama yang mudah diamati adalah anak sering kali dapat menceritakan objek/benda yang ditemuinya dengan sangat mendetail, mulai dari bentuk, warna, ukuran hingga bagian-bagian dari objek tersebut.

Sedangkan Yus, A (2011) mengungkapkan bahwa kecerdasan visual spasial memiliki ciri-ciri seperti:

  1. Menata ruang dan menciptakan suatu tata ruang
  2. Membayangkan sesuatu, seperti benda, tempat, dan perjalanan
  3. Membentuk sesuatu seperti membuat pahatan dan menciptakan karya seni, seperti menggambar, melukis, merancang tata ruang dari sesuatu yang ada di sekitarnya
  4. Menghasilkan pengetahuan berdasarkan suatu ilmu seperti topologi dan anatomi

Strategi MengembangkanKecerdasan Visual Spasial

Menurut Sujiono (2010) strategi mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak, yaitu:

  1. Mencoret-coret
    Coretan merupakan tahapan dari menggambar merupakan sarana untuk megembangkan imajinasi dan kerativitas nya.suatu kemampuan yang mendukung kecerdasan visual spasialnya.Untuk mampu menggambar, anak memulai dengan tahapan mencoret terlebih dahulu.Mencoret biasanya dimulai sejak anak berusia sekitar 18 bulan ini, pada dasarnya kegiatan mencoret merupakan sarana anak mengekspresikan diri. Meski apa yang digambarnya dalam coretannya belum tentu lansung terlihat isi pikirannya. Selain itu, kegiatan ini juga dalam melatih koordinasi tangan dan mata anak.
  2. Menggambar dan melukis.
    Kegiatan menggambar dan melukis dapat dilakukan diamana saja, kapan saja dengan biaya yang relatif murah.Sediakan alat-alat yang diprerlukan seperti kertas, pensil warna, dan krayon. Biarkan anak menggambar atau melukis apa yang dia inginkan sesuai imajinasi dan kreativitasnya karena menggambar atau melukis merupakan ajang bagi anak untuk mengekspresikan diri.
  3. Kegiatan membuat prakarya atau kerajinan tangan
    Kegiata ini dapat meningkatkan kecerdasan visual spasial anak.kerajinan yang dilakukan anak adalah menggunakan kertas. menuntut kemampuan anak memanipulasi bahan. Kreativitas dan imajinasi anak pen terlatih karenanya.Selain itu, kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak.
  4. Mengunjungi berbagai tempat
    Mengunjungi berbagai tempat dapat memperkaya pengalaman visual anak, seperti mengajaknya ke museum, kebun binatang, menempuh perjalanan wisata alam lainnya.

Menurut Hamza strategi yang dapat digunakan untuk mengaktifkan kecerdasan visual spasial antara lain:

  1. Visualisasi. Salah satu cara termudah membantu siswa menerjemahkan buku atau materi pelajaran menjadi gambar dan pencitraan adalah meminta mereka memejamkan mata dan membayangkan apa yang mereka pelajari.
  2. Penggunaan warna. Siswa yang memiliki kecerdasan spasial tinggi biasanya peka pada warna. Ada banyak cara yang kreatif memanfaatkan warna sebagai alat pembelajaran. Siswa dapat menggunakan warna kesukaan mereka sebagai
    penghilang stres ketika menghadapi masalah-masalah yang sulit atau gagasan yang tidak dipahami dengan cara bayangkanlah warna kesukaan kalian, hal ini akan membantu kalian menemukan jawaban yang tepat atau bahkan menemukan sendiri penjelasannya.
  3. Metafora gambar. Metafora adalah penggunaan satu gagasan untuk merujuk pada gagasan lain, dan metafora gambar adalah pengekspresian satu gagasan meliputi pencitraan visual.
  4. Sketsa gagasan. Guru harus membantu siswa dalam mengartikulasi pemahaman mereka tentang materi pembelajaran. Strategi sketsa gagasan ini misalnya dengan meminta menggambarkan poin kunci, gagasan utama, tema sentral atau konsep dasar yang diajarkan.
  5. Simbol grafis. Salah satu strategi pengajaran paling tradisional adalah menulis di papan tulis. Strategi ini sangat penting bagi proses pemahaman siswa yang memiliki kecenderungan pada kecerdasan spasial. Oleh karena itu, Anda harus berlatih menggambar sekurang-kurangnya di beberapa bagian pelajaran misalnya dengan menciptakan simbol grafis untuk konsep yang akan dipelajari.

Indikator Kecerdasan Visual Spasial

Anak minimal bisa mengenali beberapa bentuk bangunan atau tempat seperti halnya kotak, lonjong, maupun bundar.Selain itu anak yang memiliki kecerdasan visual spasial juga bisa mengenali warna dengan mudah dan bisa membedakan arah kanan maupun kiri.

Adapun indikator kecerdasan visual spasial menurut Musfiroh (2012), yaitu:

  1. Anak menonjol dalam kemampuan menggambar, mampu menunjukkan detil unsur daripada anak-anak sebayanya.
  2. Anak memiliki kepekaan terhadap warna, cepat mengenali warna dan mampu memadukan warna lebih baik daripana anak-anak sebayanya
  3. Anak suka menjelajah lokasi disekitarnya dan memperhatikan tata letak benda di sekitarnya, serta cepat menghafal letak benda-benda.
  4. Anak menyukai balok atau benda lain untuk membuat suatu bangun benda, seperti mobil, rumah, pesawat, atau apapun yang ingin di buat oleh anak.
  5. Suka melihat-lihat dan memperhatikan buku yang berilustrasi atau buku-buku yang penuh gambar.
  6. Anak mewarnai berbagai gambar yang ada di buku, menebalkan garisnya, dan meniru.
  7. Anak menikmati bermain kolase dari berbagai unsur ( usia TK), membuat sesuatu atau bentuk dari playdough, malam (lilin atau plastisin), atau sejenisnya
  8. Anak memperhatikan berbagai jenis grafik, peta, dan diagram serta menanyakan nama serta maksud bentuk-bentuk informasi tersebut sementara anak sebayanya kurang antusias.
  9. Anak banyak bercerita tentang mimpinyaa dan dapat menunjukkan detil mimpi daripada sebayanya
  10. Anak tertarik pada profesi yang terkait dengan penggunaan kecerdasan visual spasial secara optimal seperti pelukis (anak-anak menyebutnya sebagai tukang gambar), fotografer (tukang foto), arsitek (anak-anak menyebutnya sebagai tukang gambar rumah), perancang busana (anak menebutnya tukang baju), pilot, penjelajah ruang angkasa atau karier yang lain yang berorientasi visual spasial
  11. Anak dapat merasakan pola-pola sederhana dan mampu menilai pola mana yang bagus dari pola yang lainnya.

Adapun indikator kecerdasan visual-spasialanak usia dini 5-6 tahun Musfiroh (2008):

  1. Anak yang cerdas visual-spasialcepat menangkap karateristik objek dan memiliki kemampuan alami untuk menuangkannya kedalam bentuk gambar, bentuk tiga dimensi dan seni kerajinan.
  2. Anak yang memiliki kecerdasan visual-spasialpeka terhadap bentuk, ukuran, unsur bentuk, komposisi, warna, dan mereka detail lainnya, mereka mampu merekam dengan akurat apa yang dilihat dan dibayangkannya.
  3. Anak dengan kecerdasan visual-spasialsangat imajinatif, mampu membayangkan sesuatu dengan detail bentuk, warna, dan komposisinya.
  4. Anak cerdas visual-spasial senang membuat konstruksi tiga dimensi dan unsur seperti: lego, bricks, bombiq, dan balok.

Aspek Kecerdasan Visual Spasial

Menurut Musfiroh (2008) aspek dari kecerdasan visual spasial adalah kepekaan terhadap bentuk, unsur bentuk, ukuran, komposisi, dan warna. Mereka yang cerdas visual-spasial sangat imajinatif mampu membayangkan sesuatu dengan detil, senang membuat kontruksi seperti: lego, brick, bombiq, plastisin dan balok, mereka akan belajar dengan melihat dan mengamati
benda, bentuk dan warna. Adapun aspek yang dijadikan fokus dalam penelitian ini yaitu:

  1. Bentuk, Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep bentuk juga dapat diberikan secara dini. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya, juga pengulangan bermain dengan alat ini akan semakin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. Misalnya, bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segiempat, maka tidak usah dipaksakan. Yang penting anak dapat memila-memila berdasarkan bentuk yang senada dan istilah segi empat diganti dengan istilah kotak. Hal ini juga dapat diperlakukan pada bentuk lain, misalnya kata “lingkaran” diganti benjadi bundaran.
  2. Ukuran, Menurut Jumaris (2006) kemampuan dasar yang berkaitan dengan ukuran diperoleh dari pengalaman anak pada waktu ia berinteraksi pada lingkungannya, khususnya pengalaman yang berhubungan dengan membandingkan, mengklasifikasikan, dan menyusun atau mengurutkan benda-benda.
  3. Warna, Sugiman dalam Buletin PAUD, (2006) warna-warna tersebut meliputi: merah, biru, hijau, kuning, coklat, jingga, hitam, putih dan abu-abu. Dalam hal memberikan kesempatan anak untuk belajar mengenal berbagai warna mengenal warna yang sama dan berbeda, melatih daya ingat dan konsentrasi melengkapi pola, dan menghitung.
  4. Menuangkan ide dalam merancang, Anak yang menonjol kecerdasan visual-spasialcenderung suka melakukan permainan konstruktif, menonjol dalam mengenal bentuk, ukuran dan warna. Permainan konstruksi dapat mengoptimalkan perkembangan kecerdasan visual-spasialanak. Anak dapat menggunakan alat permainan seperti balok-balok, maze (mencari jejak), puzzle (merangkai kepingan gambar), permainan rumah-rumahan, dan plastisin atau playdough.

 

Senin, 15 September 2025

ubah pikiran

 

Kalau pikiran seseorang diubahkan, maka hidup seseorangpun dapat diubahkan.

Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kalau budi (pemikiran) seseorang diubahkan, ia akan dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan. Saat seseorang dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan, saat itulah ia akan bisa menjadi seorang yang efektif dalam kehidupannya.

Hari ini Pak Bambang mengetengahkan mengenai masalah kemurahan hati dengan sub topik adalah sikap bertanggung jawab. Kotbah beliau dibuka dengan ilustrasi Laut Mati atau menurut beliau seharusnya disebut Danau Mati karena memang tidak mengalirkan air lagi. Kalau laut seharusnya masih mengalirkan air.

Jadi air mengalir dari Bukit Hermon, ke Sungai Yordan. Lalu dari Sungai Yordan, air mengalir masuk ke Danau Galilea. Setelah itu dari Danau Galilea, air mengalir lagi sepanjang Sungai Yordan. Baru terakhir masuk ke Laut (Danau) Mati.

Laut (Danau) Mati tidak mengalirkan air lagi ke manapun. Karena laut tersebut tidak mengalirkan air apapun padahal terus menampung air dari Sungai Yordan yang merupakan limpahan dari Danau Galilea dan dari Bukit Hermon, kandungan mineral (terutama garam) di Laut (Danau) Mati menjadi begitu tinggi.

Ditambah dengan penguapan yang terjadi ribuan tahun menyebabkan kandungan garam dalam Laut (Danau) Mati tersebut menjadi sangat tinggi. Akibatnya tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup di sana. Itu sebabnya laut (danau) tersebut dikatakan sebagai Laut (Danau) Mati, karena memang tidak ada kehidupan di sana.

Orang yang mendapat berkat terus-menerus tetapi hanya menyimpan untuk diri sendiri dan tidak mau membagikan berkat itu kepada orang lain itu sama dengan Laut (Danau) Mati. Berkat dapat dianalogikan sebagai mineral (garam). Diterimanya berkat terus-menerus dapat dianalogikan sebagai mengalirnya air yang berisi mineral (garam) ke Laut (Danau) Mati.

Itu sebabnya kalau orang yang mendapat berkat terus-menerus tetapi hanya menyimpannya untuk sendiri, sesungguhnya keberadaannya tidak berguna. Tidak bisa menghidupkan, tetapi justru mematikan orang lain.

Dijelaskan oleh pendeta saya bahwa Danau Galilea itu memiliki kedalaman 200 meter di bawah laut. Laut (Danau) Mati memiliki kedalaman 422 meter di bawah laut. Kedua danau tersebut memiliki lokasi yang berdekatan pula.

Jadi ada dua danau di sini. Dua danau itu sama-sama memiliki kedalaman sekian ratus meter di bawah laut. Lokasinya pun sama-sama berdekatan pula. Sementara Laut (Danau) Mati tidak bisa dihuni makhluk hidup, Danau Galilea justru menjadi pusat perikanan untuk daerah itu.

Mengherankan sekali, dua danau dengan karakteristik yang begitu mirip ternyata menghasilkan dua hal yang berbeda. Permasalahannya adalah dalam aliran air yang dihasilkannya. Karena Danau Galilea menerima air dari Sungai Yordan dan mengalirkannya ke Laut (Danau Mati), itu menjaga keseimbangan mineral (garam) di dalamnya. Sementara Laut (Danau Mati) menerima air dari Sungai Yordan dan Danau Galilea, tetapi tidak mengalirkan air lagi.

Berkenaan dengan itu, orang yang murah hati adalah seperti Danau Galilea yang menghidupkan orang-orang di sekitarnya. Orang yang murah hati akan dapat menjaga keseimbangan hidup bagi orang-orang di sekitarnya, sama seperti Danau Galilea yang menjaga keseimbangan mineral (garam) di dalamnya sehingga dapat menjaga keseimbangan kehidupan di dalamnya.

Pak Bambang membahas bahwa kemurahan hati memiliki 3 dimensi, yaitu:
1. Rela untuk memberi dari hal yang dimiliki (2 Korintus 8:10-12).
Dibahas di ayat tersebut mengenai memberi dari yang dimiliki, bukan dari yang tidak dimiliki. Berkaitan dengan ayat tersebut, saya jadi teringat akan satu kasus sekian tahun lalu di salah satu forum rohani yang saya ikuti.

Ada seorang yang memberi karena di gerejanya dikatakan berbahagia orang yang memberi karena akan beroleh kemurahan. Karena motivasinya adalah untuk mendapatkan berkat lagi, ini sudah suatu motivasi yang salah. Ia lalu meminjam uang untuk dapat memberi dalam jumlah yang besar ke gereja. Ketika akhirnya tidak mendapat berkat, ia menjadi stres.

Jangan sampai kita memberi dengan motivasi yang salah. Kita memberi karena memang rela hati dan memang kita memberi dari hal yang kita miliki. Tuhan melihat setiap hati kita. Kalau hati kita keliru, Tuhan tahu itu dan Ia tidak suka jika kita melakukan sesuatu dengan sikap hati yang keliru.

Dijelaskan oleh Pak Bambang mengenai jemaat di Makedonia. Jemaat di Makedonia ini adalah jemaat yang berkekurangan secara materi. Tetepi justru di tengah kekurangan mereka, mereka memiliki hati yang luar biasa murah hati. Mereka mau memberi dari kekurangan mereka untuk memberkati orang lain.

2. Tidak mementingkan diri sendiri (2 Korintus 8:13-15).
Dijelaskan bahwa ada satu penelitian yang membuktikan bahwa sebuah pernikahan yang bahagia adalah bila dalam pernikahan tersebut terdiri dari orang-orang yang memiliki 2 karakteristik berikut ini:
– Tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
– Justru mengutamakan kepentingan pasangannya dan mengharapkan kebahagiaan pasangannya lebih dari kebahagiaan dirinya sendiri.

Dari hasil penelitian itu diperoleh bahwa keluarga yang diteliti dan yang memiliki 2 karakteristik tersebut ternyata juga merupakan keluarga dengan tingkat kesehatan yang baik. Hal ini tidak mengherankan karena dari yang saya pernah baca, orang yang bahagia itu memiliki tingkat kekebalan tubuh yang baik. Sementara orang yang tidak bahagia (diliputi stres, kuatir, takut, dll), justru sistem kekebalan tubuhnya menurun dengan drastis.

Dari penelitian lain yang pernah saya baca di buku “How Full is Your Bucket?” yang ditulis oleh Tom Rath dan Donald O. Clifton Ph.D, dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang memiliki emosi positif (termasuk bahagia di dalamnya) di suatu klinik. Hasilnya ditemukan bahwa orang-orang tersebut memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, selain juga sembuh dari rasa sakit dan trauma dalam waktu yang lebih cepat.

Jadi jika Anda ingin sehat, umur panjang, dan bahagia; caranya mudah sekali. Jadilah orang yang tidak mementingkan diri sendiri.

3. Memiliki sikap bertanggung jawab terhadap berkat yang diterima (2 Korintus 8:16-24).
Diberikan 2 ilustrasi oleh Pak Bambang tentang sikap bertanggung jawab. Ilustrasi pertama adalah mengenai pendiri Quaker Oats, yaitu Henry Crowell. Henry merupakan seseorang yang pada masa kecilnya sudah menjadi anak yatim karena ayahnya meninggal karena sakit TBC. Pada usia 17 tahun Henry mengalami sakit yang sama. Dalam kelemahan tubuh, Henry lalu menghadiri satu KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) dengan pembicara D.L. Moody.

Di sana D. L. Moody mengatakan bahwa orang yang mau murah hati menyerahkan segenap hati dan hidupnya untuk Tuhan akan diberikan kuasa dan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Ketika mendengar hal itu, Henry terketuk dan ia berdoa meminta usianya diperpanjang dan ia ingin menjadi orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa.

Tak lama dari KKR itu, Henry pun sembuh. Ia membangun usaha Quaker Oats dari bawah. Setiap kali penghasilannya disisihkannya 10% untuk Tuhan. Waktu berlalu dan semakin banyak penghasilan yang diperoleh. Henry menyisihkan 20% untuk Tuhan. Ketika ia akhirnya meninggal sekian puluh tahun kemudian, dicatat bahwa selama 40 tahun terakhir hidupnya, ia menyisihkan sampai 70% dari penghasilannya untuk Tuhan. Luar biasa! Tidak heran kalau Tuhan memberkati usahanya secara luar biasa!

Ilustrasi kedua adalah mengenai pendiri perusahaan coklat Hersey, yaitu Tuan Hersey. Ia juga sama seperti Henry, membangun usahanya dari bawah. Lebih luar biasa lagi, Hersey hidup sederhana dengan istrinya. Dari penghasilannya, ia mencukupkan dirinya dan sisa dari semua penghasilannya diberikannya seluruhnya untuk Tuhan! Jadi bukan 10 % saja yang itupun ada sejumlah orang sudah bersungut-sungut dan menentang dengan dalih ini dan itu.

Tuhan memang tidak melihat jumlah. Tuhan itu melihat hati. Tetapi jika hati kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan firman-Nya, kita akan melakukan yang terbaik. Kita akan memberi yang terbaik. Hal yang terbaik dan yang datang dari hati, biasanya merupakan suatu jumlah yang besar.

Kemurahan hati memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan penyangkalan diri yang terus-menerus untuk bisa menjadi orang yang murah hati. Tetapi kita sudah memperoleh kemurahan hati yang luar biasa dengan menerima anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus berikan dari atas kayu salib, hal yang kita tidak pernah akan sanggup untuk membayarnya. Jika kita sudah menerima kemurahan hati, bukankah sudah wajar kita juga membayar dengan kemurahan hati?