Jumat, 19 September 2014
MENGATASI HAMBATAN DALAM KEPEMIMPINAN
Keberhasilan hamba-hamba Tuhan seperti Penginjil D. L. Moody, Dr. Billy Graham, atau Dr. Paul Yonggi Cho, tidak hanya terletak pada kehebatan mereka dalam berkhotbah, tetapi juga pada kepemimpinan mereka. Berdoa saja tidak cukup. Seorang hamba Tuhan harus mampu memimpin. Hal-hal apa yang menghambat kepemimpinan Anda selama ini? Yang berikut ini kiranya dapat menolong Anda untuk melihat beberapa hambatan dan bagaimana mengatasinya.
KOMUNIKASI YANG KURANG BAIK
Komunikasi dalam kepemimpinan melibatkan minimal dua pihak: Pihak yang memimpin dan pihak yang dipimpin. Komunikasi antara keduanya sangat menentukan dalam hal ini. Seorang pemimpin sering kali merasa bahwa ia sudah menyampaikan suatu pesan kepada bawahannya secara jelas. Berarti, bawahannya harus menjalankannya. Kalau ini terjadi di perusahaan-perusahaan profit, yang setiap karyawannya digaji, tidak masalah. Bawahan harus berusaha mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemimpinnya. Jika tidak, ia akan dinilai tidak baik, dan itu akan memengaruhi gajinya. Dalam pelayanan, kita berhadapan dengan orang-orang yang bekerja dengan sukarela. Bukan bawahan yang berusaha untuk mengerti. Tetapi, pemimpinlah yang berusaha untuk memahami bawahan, dan selanjutnya mengomunikasikan dengan jelas dan menarik apa yang menjadi keinginan atau visinya.
Pedoman yang dikeluarkan oleh buletin Christian Management Association berikut ini kiranya dapat menolong Anda mengatasi hambatan komunikasi.
1. Berusahalah mendapatkan kepercayaan dari bawahan Anda.
Kredibilitas seorang pemimpin itu penting dan sangat memengaruhi kepercayaan orang yang dipimpin. Jika seorang pemimpin tidak lebih pintar dari bawahannya, ia akan mengalami kesulitan dalam memimpin. Jika seorang pemimpin lembaga kerohanian tidak lebih rohani dari anak buahnya, ia akan dianggap remeh. Intinya, seorang pemimpin harus memiliki nilai tambah dibandingkan dengan bawahannya.
2. Komunikasikan secara terbuka.
Keterbukaan dalam berkomunikasi akan menumbuhkan rasa saling percaya di antara kedua belah pihak. Sampaikanlah bukan saja apa yang Anda perlu sampaikan, melainkan lebih dari itu. Keterbukaan yang dimaksud tentu bukanlah tanpa kebijaksanaan. Saya senang dengan orang yang terbuka, tetapi saya lebih senang dengan orang terbuka yang disertai dengan kebijaksanaan yang dari Tuhan.
3. Sampaikanlah maksud Anda dengan jelas dan spesifik.
Lebih baik menggunakan satu kalimat yang dapat dimengerti, daripada seribu kalimat yang sulit dimengerti. Jika Anda berkata kepada bawahan Anda, "Hari ini kamu bekerja dengan baik." Kata-kata itu tidak lebih dari sekadar basa-basi saja. Dari kalimat itu, kita bertanya, apanya yang baik? Dan, dari semua pekerjaan hari ini, mana dari pekerjaan itu yang baik? Ungkapan Anda itu malah menimbulkan banyak pertanyaan, dan bawahan Anda bisa mencurigai Anda. Lebih baik Anda berkata, "Surat yang kamu ketik ini bersih dan rapi."
4. Komunikasi sebaiknya bersifat interaktif.
Anda hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga orang lain merasa bebas untuk memberi respons terhadap Anda dan tidak takut untuk menyampaikan tanggapan, reaksi, gagasan, kritik, atau komentar mereka.
5. Berkomunikasilah secara teratur.
Apakah Anda berkomunikasi secara teratur dengan bawahan Anda, dan sebaliknya? Terkadang, rapat hanya merupakan kegiatan rutin yang membosankan. Padahal, rapat seharusnya menjadi sangat penting dalam menjalin hubungan komunikasi dengan bawahan. Hubungan dengan bawahan tidak hanya melalui rapat, tetapi juga melalui pertemuan-pertemuan informal. Salah seorang pemimpin sebuah organisasi pelayanan selalu menyempatkan diri untuk berbicara dengan bawahannya (mulai dari tukang sapu sampai wakilnya) secara pribadi. Biasanya, ia menjadwalkan satu orang setiap hari secara bergiliran.
KURANGNYA PEMAHAMAN MENGENAI PROSES KOMUNIKASI
Proses komunikasi berjalan melalui dua jalur, yakni jalur formal (resmi) dan jalur informal (tidak resmi). Dengan kata lain, komunikasi terjadi melalui apa yang Anda katakan atau tulis, dan apa yang Anda perlihatkan (sikap, perasaan, nilai yang dianut).
Hal ini dapat kita lihat dari apa yang dikatakan oleh hadirin yang ada di rumah sembahyang orang Yahudi mengenai Yesus: "Dan semua orang ... heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya (pesan formal). Bukankah Ia ini anak Yusuf?" (kesan informal) (Lukas 4:22).
Yang justru lebih besar pengaruhnya adalah pesan yang diterima secara formal. Kesan yang ditampilkan seperti kedudukan, sikap, perhatian, kredibilitas, kesaksian hidup, jauh lebih memengaruhi orang lain ketimbang apa yang kita bicarakan. Ada ungkapan yang mengatakan, "Pemberita adalah berita itu sendiri."
KETEGANGAN (STRES)
Seorang pemimpin harus cepat tanggap terhadap stres yang dialaminya sendiri maupun oleh anak buahnya. Dalam tahap tertentu, stres itu berguna bahkan diperlukan. Tetapi, stres yang berlebihan akan membuat segalanya kacau balau.
Setiap orang berbeda dalam daya tahan terhadap suatu ketegangan, dan masing-masing memunyai reaksi yang berbeda terhadap ketegangan. Penyebab ketegangan dan perbedaan reaksi orang terhadapnya dapat dilihat dalam daftar berikut ini.
Penyebab stres:
1. Perubahan dalam pelayanan.
2. Penurunan mutu dalam hubungan.
3. Kurangnya buah-buah pelayanan kerja.
4. Menyesuaikan dengan lingkungan baru.
Reaksi jenis A:
1. Rasa takut, khawatir, merasa kurang mampu.
2. Menarik diri, kesal.
3. Depresi, menyalahkan diri, kecanduan.
4. Merasa kehilangan arah, menarik diri.
Reaksi jenis B:
1. Senang tantangan, asyik dengan perubahan.
2. Ingin bertukar pikiran, berusaha mencapai kesepakatan.
3. Melihat faktor-faktor penghambat, segera masuk peperangan rohani.
4. Penyesuaian diri.
Bagaimana mengetahui adanya gejala stres? Sekali lagi, kita perlu menyadari bahwa dalam batas-batas tertentu, stres itu sehat. Stres yang kurang baik adalah apabila stres itu justru terlalu kecil ataupun terlalu besar. Berikut adalah daftar gejala stres:
A. Stres skala kecil (kurang baik):
1. Sering bosan.
2. Sikap apatis.
3. Suka ketiduran.
4. Motivasi kurang.
5. Rasa malas.
6. Bersikap negatif.
7. Pikiran tumpul.
B. Stres yang pas (baik):
1. Timbul semangat.
2. Motivasi besar.
3. Menjadi waspada.
4. Energi tinggi.
5. Analisis tajam.
6. Persepsi tajam.
7. Bersikap tenang.
C. Stres yang tingkat tinggi (kurang baik):
1. Susah tidur.
2. Mudah tersinggung.
3. Gampang celaka.
4. Kurang nafsu makan.
5. Hubungan tegang.
6. Salah penilaian.
7. Sulit mengambil keputusan.
TIDAK MEMPUNYAI TEMAN
Orang yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain akan mengalami kesulitan dalam pelayanan. Seorang pemimpin harus diakui bahwa ia adalah seorang yang telah menapaki sekian anak tangga untuk mencapai kariernya. Tetapi, jangan lupa, setelah ia mencapai puncak kepemimpinannya itu, ia pun sampai pada suatu keadaan sendirian. Kebanyakan orang sungkan berkomunikasi dengannya karena kedudukannya itu. Orang yang berhubungan dengannya umumnya hanya dalam suasana formal. Padahal, sebagai seorang manusia, ia membutuhkan sapaan sebagai seorang sahabat. Akibatnya, ia menjadi kesepian.
Biasanya, kita menjadi bersungguh-sungguh dalam pelayanan kita sendiri, sehingga kesungguhan kita itu pada akhirnya berubah menjadi suatu titik kelemahan: Kita tidak cukup banyak memikirkan dan mendoakan satu sama lain. Pemimpin harus selalu memikirkan berbagai hal untuk membantu anak buahnya, agar mereka dapat menjalin hubungan baik satu sama lain. Barangkali, apa yang kita lakukan itu harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar, misalnya harus mengeluarkan ongkos perjalanan yang besar hanya untuk datang bersekutu dengan kawan-kawan kita.
Seorang sahabat adalah orang yang mampu mengurangi ketegangan kita dalam pelayanan. Sebab dengan sahabat, kita bisa membuka isi hati yang sudah terpendam begitu lama. Kita saling berbagi pengalaman, baik yang menyusahkan maupun yang menyukakan.
KURANG SIAP DALAM MENGHADAPI ARUS PERUBAHAN
Memang ada suatu bahaya besar, bahwa suatu lembaga rohani akan tetap meneruskan cara-cara kerja yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman, dan kurang menyadari bahwa perubahan situasi seharusnya dihadapi dengan cara-cara yang berlainan. Metode hari ini belum tentu cocok untuk yang akan datang. Kita harus peka terhadap perubahan.
Dunia dan perubahannya sekarang ini berjalan begitu cepat sehingga kalau kita tidak segera membuat penyesuaian, maka kita akan ketinggalan. Banyak pemimpin gereja sekarang ini yang cenderung mempertahankan apa yang sudah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka dulu. Memang ada hal-hal tertentu, seperti doktrin dan beberapa kebijaksanaan lainnya yang tidak berubah. Tetapi, hal-hal yang menyangkut metode, perlu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan yang sedang terjadi.
Cara Memahami Perasaan Orang Lain
Untuk
Memahami Perasaan Seseorang, Kita Perlu Memperhatikan Beberapa Hal, Seperti :
1.
Perhatikan Ekspresi Wajah ( Mimic Wajah )
2.
Perhatikan Tingkah Lakunya
3.
Perhatikan Cara Berbicaranya
4.
Perhatikan Emosinya
5.
Perhatikan Mata
6. Rasa
Percaya Target Sangat dibutuhkan.
Kita
Akan Bahas Satu Persatu Agar Dapat dimengerti Oleh Kalian Semua :
1.
Perhatikan Ekspresi Wajah
Kenapa
Harus Memperhatikan Raut Wajah ? Karena Raut Wajah Sangat Berpengaruh, Apabila
Raut Wajahnya Menggambarkan Suasana Hati Yang Ceria, Maka Dengan Mudahnya si
Target Akan Bercerita, Mau Tahu Kenapa ? Karena Suasana Hati Sangat
Mempengaruhi Perilaku, Sebagian Besar Orang Akan Sangat Mudah Dipengaruhi
Ketika Suasana Hatinya Senang. Sebagai Contoh, Ketika TS Senang lalu Teman TS
Memaksa untuk Bercerita, Maka dengan Senang Hati TS Akan Bercerita. Tapi Bagi
Sebagian Orang yang Tidak Biasa Cerita dengan Teman Selain Teman Curhatnya Maka
Akan Lebih Sulit Dipaksanya. Dengan Begitu Dapat Disimpulkan Bahwa Raut Wajah
Juga Media Untuk Memahami Perasaan Orang Lain.
2.
Tingkah Laku
Kenapa
Juga Tingkah Laku Perlu di Perhatikan ? Karena Dengan Tingkah Laku Juga Dapat
Menggambarkan Isi Hati Orang Lain. Sebagai Contoh, Apabila Target Memilih Untuk
Memisahkan Diri Dari Kawanan Teman - Temannya, Dapat Bertanda Target Sedang
Membutuhkan Waktu Untuk Sendiri Tepatnya Untuk Berpikir, Tetapi Apabila Target
Selalu Dekat Dengan Kawanannya, dan Juga Selalu Menanggapi Topik yang Sedang
dibahas, Dapat Berarti Target Sedang Baik - Baik Saja. Apabila Target
Memisahkan Diri Dari Kawanannya, Sebaiknya Anda Langsung Memberi Rasa Perhatian
Kepada Target Agar Dia Mau Bercerita atau Merasa Lebih Baik.
3. Cara
Bicaranya
Cara
Bicara Dapat Juga Berpengaruh Terhadap Pemahaman Hati, Kenapa ? Karena dengan
Bicara Juga Dapat Menggambarkan Suasana Hati si Target. Sebagai Contoh, Ketika
Target Berbicara Sangat Jutek atau Membuat Pendengar Merasa Sakit Hati, Berarti
Suasana Hati Target Sedang Tidak Enak, dan Sebaiknya Anda Jangan Merasa
Tersakiti Oleh Perkataannya, Tapi Apabila Target Berbicara Lemah Lembut, Serta
di Sertai dengan Memberi Perhatian Dapat Berarti Target Sedang Merasa Bahagia.
4.
Perhatikan Emosinya
Ketika
Seseorang Emosi, Logika Mereka Tidak Berjalan, Sebaiknya Orang yang Sedang
Emosi Agak diberi Sedikit Ruang untuk Berpikir, Setelah Dia Merasa Lebih Baik,
Barulah Kita Beri Pengertian.
5.Perhatikan
Mata
Kenapa
Perlu ? Apabila Target Hubungannya Sudah Dekat Sekali dengan Kita, Biarpun
Target Berbohong, Kita Akan Dapat Merasakannya, Biarpun Itu Hanya Sedikit, Jadi
Mata Sangat Berpengaruh untuk Memahami Perasaan.
6. Rasa
Percaya Target Sangat dibutuhkan
Untuk
Apa ? Rasa Percaya Target Sangat dibutuhkan, Karena Apabila Target Percaya Maka
Dia Akan Langsung Bercerita Kepada Anda Tentang Perasaannya Saat Itu. 7.
Keadaan Sekitar
Pengertian emosi dan memelihara emosi
1. Pengertian Emosi
Hingga saat
ini para ahli tampaknya masih beragam dalam memberikan rumusan tentang emosi
dengan orientasi teoritis yang bervariasi pula. Kita mencatat beberapa beberapa
teori tentang emosi dengan sudut pandang yang berbeda, diantaranya: teori
Somatic dari William James, teori Cannon-Bard, teori Kogntif Singer-Schachter,
teori neurobiological dan teori evolusioner Darwin. Perbedaan kerangka teori
inilah yang menyebabkan kesulitan tersendiri untuk merumuskan tentang emosi
secara tunggal dan universal.
Terdapat sekitar 550 sampai 600 kata dalam bahasa Inggris
yang memiliki makna yang sama dengan kata emosi, baik itu dalam bentuk kata
kerja, kata benda, kata sifat, dan kata keterangan (Averil, 1975; Johnson Laird
& Oatley, 1989; Storm & Storm, 1987). Meski tidak didapati rumusan
emosi yang bersifat tunggal dan universal, tetapi tampaknya masih bisa
ditemukan persesuaian umum bahwa keadaan emosional merupakan satu reaksi
kompleks yang berkaitan dengan kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam
yang dibarengi dengan perasaan kuat atau disertai dengan keadaan afektif
(J.P.Chaplin. 2005). English and English (Syamsu Yusuf, 2003) menyebut emosi
ini sebagai “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and
grandular activities”. Menurut Abin Syamsuddin Makmun (2003) bahwa aspek
emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel,
yaitu: (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2)
perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan (3) pola
sambutan. Dalam situasi tertentu, pola sambutan yang berkaitan dengan emosi
seringkali organisasinya bersifat kacau dan mengganggu, kehilangan arah dan
tujuan. Berkenaan dengan perubahan jasmaniah yang terjadi terkait dengan emosi
seseorang, Syamsu Yusuf (2003) memberikan penjelasan sebagaimana tampak dalam
tabel berikut ini:
|
Terpesona
|
Reaksi
elektris pada kulit
|
|
Marah
|
Peredaran
darah bertambah cepat
|
|
Terkejut
|
Denyut
jantung bertambah cepat
|
|
Kecewa
|
Bernafas
panjang
|
|
Sakit
marah
|
Pupil
mata membesar
|
|
Cemas
|
Air liur
mengering
|
|
Takut
|
Berdiri
bulu roma
|
|
Tegang
|
Terganggu
pencernaan, otot tegang dan bergetar.
|
Selanjutnya, dia mengemukakan pula tentang ciri-ciri emosi,
yaitu: (1) lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnnya
seperti pengamatan dan berfikir; (2) bersifat fluktuatif atau tidak tetap, dan
(3) banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera dan
subyektif. Lebih jauh, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengemukakan empat ciri
emosi, yaitu:
- Pengalaman emosional bersifat pribadi dan subyektif. Pengalaman seseorang memegang peranan penting dalam pertumbuhan rasa takut, sayang dan jenis-jenis emosi lainnya. Pengalaman emosional ini kadang–kadang berlangsung tanpa disadari dan tidak dimengerti oleh yang bersangkutan kenapa ia merasa takut pada sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu ditakuti. Lebih bersifat subyektif dari peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berfikir (Syamsu Yusuf, 2003)
- Adanya perubahan aspek jasmaniah. Pada waktu individu menghayati suatu emosi, maka terjadi perubahan pada aspek jasmaniah. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi serempak, mungkin yang satu mengikuti yang lainnya. Seseorang jika marah maka perubahan yang paling kuat terjadi debar jantungnya, sedang yang lain adalah pada pernafasannya, dan sebagainya.
- Emosi diekspresikan dalam perilaku. Emosi yang dihayati oleh seseorang diekspresikan dalam perilakunya, terutama dalam ekspresi roman muka dan suara/bahasa. Ekspresi emosi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman, belajar dan kematangan.
- Emosi sebagai motif. Motif merupakan suatu tenaga yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan. Demikian juga dengan emosi, dapat mendorong sesuatu kegiatan, kendati demikian diantara keduanya merupakan konsep yang berbeda. Motif atau dorongan pemunculannya berlangsung secara siklik, bergantung pada adanya perubahan dalam irama psikologis, sedangkan emosi tampaknya lebih bergantung pada situasi merangsang dan arti signifikansi personalnya bagi individu Menurut J.P. Chaplin (2005), motif lebih berkenaan pola habitual yang otomatis dari pemuasan, sementara reaksi emosional tidak memiliki pola atau cara-cara kebiasaan reaktif yang siap pakai.
Di lain pihak, Fehr &
Russel (1984) Shaver, Schwarts, Kirson & O’Connor (1987) menyebutkan, emosi
memiliki tiga bentuk, yaitu passivity, intentionality, dan subjectivity.
Passivity berasal dari kata Yunani kuno abad ke-18 yaitu “pathe”,
artinya sama dengan “nafsu” atau “hasrat”. Makna dasar dari passivity
adalah berubah secara drastis, terutama berubah menjadi sangat buruk. Kata
“pasif” seringkali digunakan dalam menerangkan kata-kata emosi. Sehingga
kata-kata semacam “jatuh cinta”, “terjebak amarah” dikonotasikan sebagai
tindakan pasif. Artinya, emosi hanyalah tindakan refleks sebagai hasil
pengalaman sensoris sederhana, yang berada di bawah kontrol pribadi. Padahal
sejatinya, manusia hidup memiliki kontrol yang lebih tidak sekadar emosinya,
sehingga emosi tidak sekadar pasif. Intentionality (kesengajaan) masih
sering dikaitkan dengan “nafsu”, tapi bisa bermakna yang sama sekali berbeda dengan
passivity jika diterapkan dalam pengertian sehari-hari. Intentionality
maksudnya, bahwa emosi terjadi karena suatu kesengajaan. Misalnya, orang tidak
marah secara tiba-tiba, tanpa sebab musabab tetapi selalu ada sesuatu yang
membuat dia marah, atau takut terhadap sesuatu, senang terhadap sesuatu, dan
seterusnya. Sesuatu itu adalah objek kesengajaan dari emosi, sebagai hasil dari
evaluasi dari sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Subjectivity.
Biasanya, emosi selalu dikaitkan dengan perbuatan subjektif sebagai akibat dari
sebuah pengalaman diri terhadap objek eksternal. Meski demikian, emosi juga
bersifat objektif, karena bisa dinilai sebagai baik atau buruk; bermanfaat atau
berbahaya, bergantung kepada penilaian pribadi terhadap emosi tersebut.
Perasaan dan emosi pada dasarnya merupakan dua konsep yang
berbeda tetapi tidak bisa dilepaskan. Perasaan selalu saja menyertai dan
menjadi bagian dari emosi. Perasaan (feeling) merupakan pengalaman yang
disadari yang diaktifkan oleh rangsangan dari eksternal maupun internal
(keadaan jasmaniah) yang cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana. Demikian
pula, emosi sebagai keadaan yang terangsang dari organisme namun sifatnya lebih
intens dan mendalam dari perasaan. Menurut Nana Syaodih Sukadinata (2005), perasaan
menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat
riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy sedangkan emosi menggambarkan suasana
batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak
atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa
diamati. Contoh: orang merasa marah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga
BBM, dalam konteks ini, marah merupakan perasaan yang wajar, tetapi jika
perasaan marahnya menjadi intens dalam bentuk angkara murka yang tidak
terkendali maka perasaan marah tersebut telah beralih menjadi emosi. Orang
merasa sedih karena ditinggal kekasihnya, tetapi jika kesedihannya
diekspresikan secara berlebihan, misalnya dengan selalu diratapi dan bermuram
durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk emosinya.
Perasaan dan emosi seseorang bersifat subyektif dan temporer
yang muncul dari suatu kebiasaan yang diperoleh selama masa perkembangannya
melalui pengalaman dari orang-orang dan lingkungannya. Perasaan dan emosi seseorang
membentuk suatu garis kontinum yang bergerak dari ujung yang yang paling postif
sampai dengan paling begatif, seperti: senang-tidak senang (pleasant-unpleasent),
suka-tidak suka (like-dislike), tegang-lega (straining-relaxing),
terangsang-tidak terangsang (exciting-subduing).
Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi dapat dikelompokkan ke
dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu
emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa
dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang
mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti : (1) perasaan intelektual, yang
berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran; (2) perasaan sosial, yaitu perasaan
yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan
maupun kelompok; (3) perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan
nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral); (4) perasaan keindahan, yaitu
perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat
kebendaan maupun kerohanian; dan (5) perasaan ke-Tuhan-an, sebagai fitrah
manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo
Religious)
Sementara itu, Nana Syaodih Sukadinata (2005) mengetengahkan
tentang macam-macam emosi individu, diantaranya: (1) takut, cemas dan khawatir.
Ketiga macam emosi ini berkenaan dengan rasa terancam oleh sesuatu; (2) marah
dan permusuhan, yang merupakan suatu perayaan yang dihayati seseorang atau
sekelompok orang dengan kecenderungan untuk menyerang; (3) rasa bersalah dan
duka, yang merupakan emosi akibat dari kegagalan atau kesalahan dalam melakukan
perbuatan yang berkenaan norma; dan (4) cinta, yaitu jenis emosi yang menurut
Erich Fromm berkembang dari kesadaran manusia akan keterpisahannya dengan yang
lain, dan kebutuhan untuk mengatasi kecemasan karena keterpisahan tersebut.
Setiap orang memiliki pola emosional masing-masing yang
berupa ciri-ciri atau karakteristik dari reaksi-reaksi perilakunya. Ada
individu yang mampu menampilkan emosinya secara stabil yang ditunjukkan dengan
kemampuan untuk mengontrol emosinya secara baik dan memiliki suasana hati yang
tidak terlau variatif dan fluktuatif. Sebaliknya, ada pula individu yang kurang
atau bahkan sama sekali tidak memiliki stabilitas emosi, biasanya cenderung
menunjukkan perubahan emosi yang cepat dan tidak dapat diduga-duga.
Tingkat kematangan emosi (emotional maturity)
seseorang dapat ditunjukkan melalui reaksi dan kontrol emosinya yang baik dan
pantas, sesuai dengan usianya. Adalah hal yang wajar bagi seorang anak kecil
usia 3-5 tahun, apabila dia merasa kecewa ketika tidak dipenuhi keinginannya
untuk dibelikan permen coklat atau mainan anak-anak dan kemudian
mengekspresikan emosinya dengan cara menangis dan berguling-guling di lantai. Tetapi,
akan menjadi hal yang berbeda, jika hal itu terjadi pada seorang remaja atau
dewasa dan jika hal itu benar-benar terjadi maka jelas dia belum menunjukkan
kematangan emosinya.
Sekilas telah dikemukakan di atas bahwa pola sambutan
emosional seringkali organisasinya kacau-balau dan hal ini sangat tampak pada
mereka yang mengalami gangguan kekacauan emosional (emotional disorder)
yaitu sejenis penyakit mental dimana reaksi emosionalnya tidak tepat dan kronis
serta sangat menonjol atau menguasai kepribadian yang bersangkutan. Untuk
kasus-kasus kekacauan emosi yang sangat ekstrem biasanya diperlukan terapi
tersendiri dengan bantuan ahli.
Karena sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih
mudah diamati, maka para ahli dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik
untuk mengkaji tentang emosi daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman
salah seorang ahli psikologi yang banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian
melahirkan konsep Kecerdasan Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali
perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri
sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam
berhubungan dengan orang lain.
Sejalan dengan usianya, emosi seorang individu pun akan
terus mengalami perkembangan, mulai dari. Dengan mengutip pendapat Bridges,
Loree (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) menjelaskan proses perkembangan dan
diferensiasi emosional pada anak-anak, sebagai berikut
|
Usia
|
Ciri-Ciri
|
|
Pada saat dilahirkan
|
Bayi
dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi,
cahaya, temperatur)
|
|
0 – 3 bln
|
Kesenangan
dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya
|
|
3 – 6 bln
|
Ketidaksenangan
berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan
|
|
9 – 12 bln
|
Kegembiraan
berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
|
|
18 bulan pertama
|
Kecemburuan
mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
|
|
2 th
|
Kenikmatan
dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan
|
|
5 th
|
Ketidaksenangan
berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangan
berdiferensiasi ke dalam harapan dan kasih sayang
|
2. Memelihara Emosi
Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan
individu, akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya
dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar
kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu
melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif.
Dengan merujuk pada pemikiran James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata,
2005), di bawah ini dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang
konstruktif.
- Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.
- Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
- Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
- Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat
Belajar Memahami Orang Lain dalam berkomunikasi
Pernahkah anda merasa
tersisih atau diacuhkan oleh teman atau orang-orang yang ada disekitar anda?
Atau anda pernah berdebat dengan seseorang dan anda menganggap lawan debat anda
adalah orang yang selalu mencari pembenaran, dan tidak jujur mengakui kebenaran
yang anda sampaikan? Atau anda pernah mengalami situasi dimana anda
menyampaikan sebuah kabar yang benar, tetapi justru orang-orang menganggap anda
sebagai seorang pembohong? Saya rasa situasi seperti ini semua orang pernah
mengalaminya.
Pada dasarnya, cara
berpikir manusia, bertingkah laku, bersikap dan lain-lain adalah egosentris.
Artinya, sudut pandang yang dipegang adalah sudut pandang pribadi. Ini adalah
hal yang manusiawi. Seseorang berbuat untuk mempertahankan eksistensi pribadi.
Hal yang menjadi masalah adalah jika pribadi-pribadi tersebut bertemu, maka
akan memunculkan sudut pandang pribadi yang berbeda-beda. Bagaimana cara
membangun komunikasi dengan pribadi-pribadi yang berbeda-beda susut pandangn
ini?
Terkadang kita terpikat
dengan seseorang, dimana kita melihat mereka sangat berhasil dalam membangun
komunikasi. Atau kita percaya pada teman kita yang luar biasa, yang sangat
perhatian kepada kita dan komunikatif.
Hal yang kita temukan
pada orang-orang yang bisa membangun komunikasi yang baik adalah, mereka selalu
dapat menempatkan posisinya secara tepat. Terkadang kita akan melihat mereka
adalah seorang pendengar yang baik, dan diwaktu yang lain akan menjadi
pembicara yang baik, dan situasi yang lain, mungkin kita akan menemukan mereka
sebagai pemberi saran yang jitu. seseorang yang berhasil dalam membangun
komunikasi adalah orang yang bisa memahami sudut pandang dan kebutuhan orang
lain. Mereka menekan ego pribadinya sendiri, untuk bisa mendalami pendapat
orang lain.
Fakta yang kita ketahu
bahwa, seseorang yang mau menang sendiri, suka berdebat, dan tidak mau mengakui
kesalahan, adalah orang-orang yang tidak kita sukai. Yang menjadi masalah
adalah, jika ketidaksukaan kita kepada mereka membuat kita memaksakan kehendak
kita dan tidak mendengarkan apa hendak mereka sampaikan, sehingga kita
membalasnya dengan sikap yang tidak bersahabat.
Belajar memahami sikap
dan pendapat orang lain menunjukkan bahwa kita bertingkahlaku sebagai orang
dewasa. Semua orang bisa berbicara dan berdebat, tetapi tidak semua orang bisa
memahami sikap orang lain atau menjadi pendengar baik
MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Komunikasi
efektif sangat layak anda perhitungkan dalam membangun karir anda. Dengan
komunikasi yang baik tentunya akan mendukung segala aktifitas kerja yang kita
lakukan. Apalagi bila pekerjaan kita melibatkan berbagai bentuk presentasi,
rapa-rapat, lobi-lobi, penyuluhan dan lain-lainya. Bidang pekerjaan komunikasi
seperti presenter dan sejenisnya sangat ditentukan oleh bagaimana cara kita
berkomunikasi dalam menyampaikan sesuatu.
Banyak faktor yang dapat membuat apa yang akan kita sampaikan menjadi lebih berkualitas. Seperti kesiapan mental, penguasaan bahan, kelengkapan sarana pendukung serta hal-hal lainnya. Adakalanya anda merasa ‘nervous’ hingga untuk mengungkapkan sesuatu anda malah kehilangan percaya diri bahkan pembicaraan jadi berputar-putar.
Nah guna mempersiapkan diri lebih baik, tidak ada salahnya kita mempelajari tips-tips dasar dibawah ini :
1. Gunakan kalimat seefektif mungkin
Uraikan isi pembicaraan dengan kalimat efektif dan langsung mengena pada sasaran. Hindari mengungkapkan informasi detail yang kurang relevan, seperti, “Tadi sebelum menuju tempat ini saya bertemu family saya di suatu tempat….”. Biasanya lawan bicara anda tidak akan peduli dengan informasi yang tidak berhubungan dengan topik pembicaraan. Hindari penggunaan idiom bahasa yang kurang/tidak dimengerti calon pendengar anda. Dengan kata lain, kenali latar belakang calon pendengar anda.
2. Jangan mengungkapkan pengulangan ide/pokok bahasan
Jika anda ingin mengungkapkan ide, entah pada bos atau dalam suatu rapat, ketahui lebih dulu apakah ide tersebut sudah pernah diungkapkan oleh yang lain. Jika sudah, lebih baik anda tidak usah mengungkapkannya. Karena umumnya orang tidak akan tertarik mendengarkan pengulangan sebuah ide. Dalam presentasi suatu analisa, usahakan tidak terjadi pengulangan kalimat-kalimat yang merupakan teori ataupun kesimpulan. Aturlah urutan penyampaian agar lebih fokus saat menyampaikannya.
3. Jangan berbicara terlalu lambat
Tutur kata yang terlalu pelan dan lamban hanya akan membuat lawan bicara anda bosan dan tidak sabar. Lagipula gaya bicara anda yang terlalu pelan akan mengesankan anda ragu-ragu dan tidak percaya diri. Karena itu bicaralah dengan nada yang optimis dan penuh percaya diri.
Namun yang patut kita ingat, bukan berarti anda harus berbicara secara cepat tanpa ritme. Anda harus pandai menentukan ritme bicara, dimana harus berbicara dan dimana harus berhenti. Ritme yang tepat dalam berkomunikasi tentunya didapat setelah anda sering melakukan latihan/pengalaman orasi yang cukup.
4. Hindari gumaman yang terlalu sering
Gumaman yang terlalu sering hanya akan mengganggu pembicaraan anda. Lagipula lawan bicara anda akan merasa lelah menunggu kapan pembicaraan anda selesai. Sebisa mungkin minimalkan atau hilangkan gumaman seperti “ ehmmm…., eeee…., oooo…..", dsb. Hal ini juga akan mengurangi respek calon pendengar anda, karena anda dinilai tidak menguasai materi pembicaraan.
5. Hindari humor yang tidak perlu
Melontarkan humor memang sah-sah saja untuk menyegarkan suasana. Namun, anda harus tanggap membaca suasana setelah anda mengungkapkan humor. Apakah lawan bicara anda benar-benar terpancing tertawa atau tertawa dengan terpaksa. Atau bahkan menunjukkan wajah yang terganggu dengan humor anda. Jika lawan bicara anda tidak tertarik dengan humor anda, teruskan pembiraan kembali. Jangan memaksa lawan bicara untuk mentertawakan humor anda yang telah gagal.
Dengan mempelajari dan melakukan tips diatas, anda dapat bermokunikasi secara lebih efektif sekaligus melatih diri anda menjadi pribadi yang efektif. Ingat keefektifan diperlukan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
Banyak faktor yang dapat membuat apa yang akan kita sampaikan menjadi lebih berkualitas. Seperti kesiapan mental, penguasaan bahan, kelengkapan sarana pendukung serta hal-hal lainnya. Adakalanya anda merasa ‘nervous’ hingga untuk mengungkapkan sesuatu anda malah kehilangan percaya diri bahkan pembicaraan jadi berputar-putar.
Nah guna mempersiapkan diri lebih baik, tidak ada salahnya kita mempelajari tips-tips dasar dibawah ini :
1. Gunakan kalimat seefektif mungkin
Uraikan isi pembicaraan dengan kalimat efektif dan langsung mengena pada sasaran. Hindari mengungkapkan informasi detail yang kurang relevan, seperti, “Tadi sebelum menuju tempat ini saya bertemu family saya di suatu tempat….”. Biasanya lawan bicara anda tidak akan peduli dengan informasi yang tidak berhubungan dengan topik pembicaraan. Hindari penggunaan idiom bahasa yang kurang/tidak dimengerti calon pendengar anda. Dengan kata lain, kenali latar belakang calon pendengar anda.
2. Jangan mengungkapkan pengulangan ide/pokok bahasan
Jika anda ingin mengungkapkan ide, entah pada bos atau dalam suatu rapat, ketahui lebih dulu apakah ide tersebut sudah pernah diungkapkan oleh yang lain. Jika sudah, lebih baik anda tidak usah mengungkapkannya. Karena umumnya orang tidak akan tertarik mendengarkan pengulangan sebuah ide. Dalam presentasi suatu analisa, usahakan tidak terjadi pengulangan kalimat-kalimat yang merupakan teori ataupun kesimpulan. Aturlah urutan penyampaian agar lebih fokus saat menyampaikannya.
3. Jangan berbicara terlalu lambat
Tutur kata yang terlalu pelan dan lamban hanya akan membuat lawan bicara anda bosan dan tidak sabar. Lagipula gaya bicara anda yang terlalu pelan akan mengesankan anda ragu-ragu dan tidak percaya diri. Karena itu bicaralah dengan nada yang optimis dan penuh percaya diri.
Namun yang patut kita ingat, bukan berarti anda harus berbicara secara cepat tanpa ritme. Anda harus pandai menentukan ritme bicara, dimana harus berbicara dan dimana harus berhenti. Ritme yang tepat dalam berkomunikasi tentunya didapat setelah anda sering melakukan latihan/pengalaman orasi yang cukup.
4. Hindari gumaman yang terlalu sering
Gumaman yang terlalu sering hanya akan mengganggu pembicaraan anda. Lagipula lawan bicara anda akan merasa lelah menunggu kapan pembicaraan anda selesai. Sebisa mungkin minimalkan atau hilangkan gumaman seperti “ ehmmm…., eeee…., oooo…..", dsb. Hal ini juga akan mengurangi respek calon pendengar anda, karena anda dinilai tidak menguasai materi pembicaraan.
5. Hindari humor yang tidak perlu
Melontarkan humor memang sah-sah saja untuk menyegarkan suasana. Namun, anda harus tanggap membaca suasana setelah anda mengungkapkan humor. Apakah lawan bicara anda benar-benar terpancing tertawa atau tertawa dengan terpaksa. Atau bahkan menunjukkan wajah yang terganggu dengan humor anda. Jika lawan bicara anda tidak tertarik dengan humor anda, teruskan pembiraan kembali. Jangan memaksa lawan bicara untuk mentertawakan humor anda yang telah gagal.
Dengan mempelajari dan melakukan tips diatas, anda dapat bermokunikasi secara lebih efektif sekaligus melatih diri anda menjadi pribadi yang efektif. Ingat keefektifan diperlukan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI
Dalam
kehidupan organisasi terdiri dari berbagai unsur, yang mempunyai maksud dan
tujuan agar organisasi yang dimilikinya tetap dipertahankan dan diarahkan demi
untuk perkembangan yang lebih dinamis.
Pada dasarnya komunikasi di dalam organisasi, terbagi kepada tiga bentuk:
1. Komunikasi vertikal
Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik.
Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk:
a. Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan.
b. Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
c. Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif.
Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya.
Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya.
Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk:
a. Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
b. Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.
Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan.
2. Komunikasi horizontal
Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal.
Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan tertulis.
3. Komunikasi diagonal
Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain.
Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain.
Pada dasarnya komunikasi di dalam organisasi, terbagi kepada tiga bentuk:
1. Komunikasi vertikal
Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik.
Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk:
a. Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan.
b. Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran.
c. Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif.
Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya.
Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya.
Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk:
a. Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
b. Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.
Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan.
2. Komunikasi horizontal
Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal.
Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan tertulis.
3. Komunikasi diagonal
Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain.
Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain.
KOMNIKASI INTERPERSONAL
Pengertian
komunikasi Interpersonal
Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.
Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:
* Persepsi Interpersonal
* Konsep Diri
* Atraksi Interpersonal
* Hubungan Interpersonal.
Dalam tulisan ini, Tim Penulis hanya menjelaskan point hubungan interpersonalnya saja. Karena Tim Penulis beranggapan, pembahasannya terlalu rumit dan dianggap dalam point hubungan interpersonal pembahasannya jelas sehingga mudah dimengerti.
Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.
2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.
Sumber-sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_interpersonal
* Buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. Penerbit Rosda
Diposkan oleh Yahya Nursidik di 13.42
Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.
Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:
* Persepsi Interpersonal
* Konsep Diri
* Atraksi Interpersonal
* Hubungan Interpersonal.
Dalam tulisan ini, Tim Penulis hanya menjelaskan point hubungan interpersonalnya saja. Karena Tim Penulis beranggapan, pembahasannya terlalu rumit dan dianggap dalam point hubungan interpersonal pembahasannya jelas sehingga mudah dimengerti.
Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.
2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.
Sumber-sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_interpersonal
* Buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. Penerbit Rosda
Diposkan oleh Yahya Nursidik di 13.42
UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
1.Sumber
(komunikator)
Sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok. Sumber sering disebut pengirim, komunikator, atau dalam bahasa inggrisnya disebut source, sender, atau encoder.
2.Pesan
Pesan adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content, atau information.
3.Media
Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Media dalam komunikasi massa dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
a. Media cetak, seperti surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out, poster, spanduk, dan sebagainya.
b. Media elektronik, seperti radio, film, televisi, video recording, komputer, elektronik board, audio cassete, dan sebagainya.
4.Penerima (komunikan)
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber.
Kenallah khalayakmu adalah prinsip dasar dalam berkomunikasi. Karena mengetahui dan memahami karakteristik penerima (khalayak), berarti suatu peluang untuk mencapai keberhasilan komunikasi.
5.Pengaruh
Pengaruh atau efek merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh juga bisa diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.
6.Umpan balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meskipun pesan belum sampai pada penerima.
Misalnya suatu konsep surat yang memerlukan perubahan sebelum dikirim, atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu mengalami gangguan sebelum sampai ke tujuan. Hal-hal seperti itu menjadi tanggapan balik yang diterima oleh sumber.
7.Lingkungan
Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni :
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi kalau tidak terdapat rintangan fisik. Misalnya geografis. Komunikasi seringkali sulit dilakukan karena faktor jarak yang begitu jauh, di mana tidak tersedia fasilitas komunikasi seperti telepon, kantor pos atau jalan raya.
b. Lingkungan sosial budaya
Lingkungan sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi, dan politik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan status sosial.
c. Lingkungan psikologis
Lingkungan psikologis adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi. Misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain, menyajikan materi yang sesuai dengan usia khalayak. Dimensi psikologi ini bis disebut dimensi internal.
d.Dimensi waktu
Dimensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakukan kegiatan komunikasi. Banyak proses komunikai tertunda karena pertimbangan waktu, misalnya musim. Namun perlu diketahui karena dimensi waktu maka informasi memiliki nilai.
Sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok. Sumber sering disebut pengirim, komunikator, atau dalam bahasa inggrisnya disebut source, sender, atau encoder.
2.Pesan
Pesan adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat, atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content, atau information.
3.Media
Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Media dalam komunikasi massa dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
a. Media cetak, seperti surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out, poster, spanduk, dan sebagainya.
b. Media elektronik, seperti radio, film, televisi, video recording, komputer, elektronik board, audio cassete, dan sebagainya.
4.Penerima (komunikan)
Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber.
Kenallah khalayakmu adalah prinsip dasar dalam berkomunikasi. Karena mengetahui dan memahami karakteristik penerima (khalayak), berarti suatu peluang untuk mencapai keberhasilan komunikasi.
5.Pengaruh
Pengaruh atau efek merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh juga bisa diartikan perubahan atau penguatan keyakinan pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan.
6.Umpan balik
Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meskipun pesan belum sampai pada penerima.
Misalnya suatu konsep surat yang memerlukan perubahan sebelum dikirim, atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan itu mengalami gangguan sebelum sampai ke tujuan. Hal-hal seperti itu menjadi tanggapan balik yang diterima oleh sumber.
7.Lingkungan
Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni :
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi kalau tidak terdapat rintangan fisik. Misalnya geografis. Komunikasi seringkali sulit dilakukan karena faktor jarak yang begitu jauh, di mana tidak tersedia fasilitas komunikasi seperti telepon, kantor pos atau jalan raya.
b. Lingkungan sosial budaya
Lingkungan sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi, dan politik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan status sosial.
c. Lingkungan psikologis
Lingkungan psikologis adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi. Misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain, menyajikan materi yang sesuai dengan usia khalayak. Dimensi psikologi ini bis disebut dimensi internal.
d.Dimensi waktu
Dimensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakukan kegiatan komunikasi. Banyak proses komunikai tertunda karena pertimbangan waktu, misalnya musim. Namun perlu diketahui karena dimensi waktu maka informasi memiliki nilai.
PENGERTIAN KOMUNIKASI
Istilah
komunikasi berpangkal pada perkataan Latin Communis yang artinya membuat
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi
juga berasal dari akar kata dalam bahasa Latin Communico yang artinya membagi.
Berbagai definisi komunikasi beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
1.Kelompok sarjana komunikasi (Book, 1980)
Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan :
a. Membangun hubungan antarsesama manusia
b. Melalui pertukaran informasi
c. Untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain
d. Berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu
2. Everett M. Rogers (pakar Sosiologi Pedesaan Amerika)
Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
3. Rogers dan D. Lawrence Kincaid
Komunikasi adalah sebuah proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan saluran komunikasi yang diharapkan menimbulkan umpan balik dari komunikan, dalam rangka mencapai tujuan tertentu
Berbagai definisi komunikasi beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
1.Kelompok sarjana komunikasi (Book, 1980)
Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan :
a. Membangun hubungan antarsesama manusia
b. Melalui pertukaran informasi
c. Untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain
d. Berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu
2. Everett M. Rogers (pakar Sosiologi Pedesaan Amerika)
Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
3. Rogers dan D. Lawrence Kincaid
Komunikasi adalah sebuah proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan saluran komunikasi yang diharapkan menimbulkan umpan balik dari komunikan, dalam rangka mencapai tujuan tertentu
Langganan:
Postingan (Atom)