Kalau pikiran seseorang diubahkan, maka hidup seseorangpun dapat diubahkan.
Roma 12:2: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Kalau budi (pemikiran) seseorang diubahkan, ia akan dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan. Saat seseorang dapat bertindak sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan, saat itulah ia akan bisa menjadi seorang yang efektif dalam kehidupannya.
Hari ini Pak Bambang mengetengahkan mengenai masalah kemurahan hati dengan sub topik adalah sikap bertanggung jawab. Kotbah beliau dibuka dengan ilustrasi Laut Mati atau menurut beliau seharusnya disebut Danau Mati karena memang tidak mengalirkan air lagi. Kalau laut seharusnya masih mengalirkan air.
Jadi air mengalir dari Bukit Hermon, ke Sungai Yordan. Lalu dari Sungai Yordan, air mengalir masuk ke Danau Galilea. Setelah itu dari Danau Galilea, air mengalir lagi sepanjang Sungai Yordan. Baru terakhir masuk ke Laut (Danau) Mati.
Laut (Danau) Mati tidak mengalirkan air lagi ke manapun. Karena laut tersebut tidak mengalirkan air apapun padahal terus menampung air dari Sungai Yordan yang merupakan limpahan dari Danau Galilea dan dari Bukit Hermon, kandungan mineral (terutama garam) di Laut (Danau) Mati menjadi begitu tinggi.
Ditambah dengan penguapan yang terjadi ribuan tahun menyebabkan kandungan garam dalam Laut (Danau) Mati tersebut menjadi sangat tinggi. Akibatnya tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup di sana. Itu sebabnya laut (danau) tersebut dikatakan sebagai Laut (Danau) Mati, karena memang tidak ada kehidupan di sana.
Orang yang mendapat berkat terus-menerus tetapi hanya menyimpan untuk diri sendiri dan tidak mau membagikan berkat itu kepada orang lain itu sama dengan Laut (Danau) Mati. Berkat dapat dianalogikan sebagai mineral (garam). Diterimanya berkat terus-menerus dapat dianalogikan sebagai mengalirnya air yang berisi mineral (garam) ke Laut (Danau) Mati.
Itu sebabnya kalau orang yang mendapat berkat terus-menerus tetapi hanya menyimpannya untuk sendiri, sesungguhnya keberadaannya tidak berguna. Tidak bisa menghidupkan, tetapi justru mematikan orang lain.
Dijelaskan oleh pendeta saya bahwa Danau Galilea itu memiliki kedalaman 200 meter di bawah laut. Laut (Danau) Mati memiliki kedalaman 422 meter di bawah laut. Kedua danau tersebut memiliki lokasi yang berdekatan pula.
Jadi ada dua danau di sini. Dua danau itu sama-sama memiliki kedalaman sekian ratus meter di bawah laut. Lokasinya pun sama-sama berdekatan pula. Sementara Laut (Danau) Mati tidak bisa dihuni makhluk hidup, Danau Galilea justru menjadi pusat perikanan untuk daerah itu.
Mengherankan sekali, dua danau dengan karakteristik yang begitu mirip ternyata menghasilkan dua hal yang berbeda. Permasalahannya adalah dalam aliran air yang dihasilkannya. Karena Danau Galilea menerima air dari Sungai Yordan dan mengalirkannya ke Laut (Danau Mati), itu menjaga keseimbangan mineral (garam) di dalamnya. Sementara Laut (Danau Mati) menerima air dari Sungai Yordan dan Danau Galilea, tetapi tidak mengalirkan air lagi.
Berkenaan dengan itu, orang yang murah hati adalah seperti Danau Galilea yang menghidupkan orang-orang di sekitarnya. Orang yang murah hati akan dapat menjaga keseimbangan hidup bagi orang-orang di sekitarnya, sama seperti Danau Galilea yang menjaga keseimbangan mineral (garam) di dalamnya sehingga dapat menjaga keseimbangan kehidupan di dalamnya.
Pak Bambang membahas bahwa kemurahan hati memiliki 3 dimensi,
yaitu:
1. Rela untuk memberi dari hal yang dimiliki (2 Korintus 8:10-12).
Dibahas di ayat tersebut mengenai memberi dari yang dimiliki, bukan dari yang
tidak dimiliki. Berkaitan dengan ayat tersebut, saya jadi teringat akan satu
kasus sekian tahun lalu di salah satu forum rohani yang saya ikuti.
Ada seorang yang memberi karena di gerejanya dikatakan berbahagia orang yang memberi karena akan beroleh kemurahan. Karena motivasinya adalah untuk mendapatkan berkat lagi, ini sudah suatu motivasi yang salah. Ia lalu meminjam uang untuk dapat memberi dalam jumlah yang besar ke gereja. Ketika akhirnya tidak mendapat berkat, ia menjadi stres.
Jangan sampai kita memberi dengan motivasi yang salah. Kita memberi karena memang rela hati dan memang kita memberi dari hal yang kita miliki. Tuhan melihat setiap hati kita. Kalau hati kita keliru, Tuhan tahu itu dan Ia tidak suka jika kita melakukan sesuatu dengan sikap hati yang keliru.
Dijelaskan oleh Pak Bambang mengenai jemaat di Makedonia. Jemaat di Makedonia ini adalah jemaat yang berkekurangan secara materi. Tetepi justru di tengah kekurangan mereka, mereka memiliki hati yang luar biasa murah hati. Mereka mau memberi dari kekurangan mereka untuk memberkati orang lain.
2. Tidak mementingkan diri sendiri (2 Korintus
8:13-15).
Dijelaskan bahwa ada satu penelitian yang membuktikan bahwa sebuah pernikahan
yang bahagia adalah bila dalam pernikahan tersebut terdiri dari orang-orang
yang memiliki 2 karakteristik berikut ini:
– Tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
– Justru mengutamakan kepentingan pasangannya dan mengharapkan kebahagiaan
pasangannya lebih dari kebahagiaan dirinya sendiri.
Dari hasil penelitian itu diperoleh bahwa keluarga yang diteliti dan yang memiliki 2 karakteristik tersebut ternyata juga merupakan keluarga dengan tingkat kesehatan yang baik. Hal ini tidak mengherankan karena dari yang saya pernah baca, orang yang bahagia itu memiliki tingkat kekebalan tubuh yang baik. Sementara orang yang tidak bahagia (diliputi stres, kuatir, takut, dll), justru sistem kekebalan tubuhnya menurun dengan drastis.
Dari penelitian lain yang pernah saya baca di buku “How Full is Your Bucket?” yang ditulis oleh Tom Rath dan Donald O. Clifton Ph.D, dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang memiliki emosi positif (termasuk bahagia di dalamnya) di suatu klinik. Hasilnya ditemukan bahwa orang-orang tersebut memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, selain juga sembuh dari rasa sakit dan trauma dalam waktu yang lebih cepat.
Jadi jika Anda ingin sehat, umur panjang, dan bahagia; caranya mudah sekali. Jadilah orang yang tidak mementingkan diri sendiri.
3. Memiliki sikap bertanggung jawab terhadap berkat
yang diterima (2 Korintus 8:16-24).
Diberikan 2 ilustrasi oleh Pak Bambang tentang sikap
bertanggung jawab. Ilustrasi pertama adalah mengenai pendiri Quaker Oats, yaitu
Henry Crowell. Henry merupakan seseorang yang pada masa kecilnya sudah menjadi
anak yatim karena ayahnya meninggal karena sakit TBC. Pada usia 17 tahun Henry
mengalami sakit yang sama. Dalam kelemahan tubuh, Henry lalu menghadiri satu
KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) dengan pembicara D.L. Moody.
Di sana D. L. Moody mengatakan bahwa orang yang mau murah hati menyerahkan segenap hati dan hidupnya untuk Tuhan akan diberikan kuasa dan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Ketika mendengar hal itu, Henry terketuk dan ia berdoa meminta usianya diperpanjang dan ia ingin menjadi orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa.
Tak lama dari KKR itu, Henry pun sembuh. Ia membangun usaha Quaker Oats dari bawah. Setiap kali penghasilannya disisihkannya 10% untuk Tuhan. Waktu berlalu dan semakin banyak penghasilan yang diperoleh. Henry menyisihkan 20% untuk Tuhan. Ketika ia akhirnya meninggal sekian puluh tahun kemudian, dicatat bahwa selama 40 tahun terakhir hidupnya, ia menyisihkan sampai 70% dari penghasilannya untuk Tuhan. Luar biasa! Tidak heran kalau Tuhan memberkati usahanya secara luar biasa!
Ilustrasi kedua adalah mengenai pendiri perusahaan coklat Hersey, yaitu Tuan Hersey. Ia juga sama seperti Henry, membangun usahanya dari bawah. Lebih luar biasa lagi, Hersey hidup sederhana dengan istrinya. Dari penghasilannya, ia mencukupkan dirinya dan sisa dari semua penghasilannya diberikannya seluruhnya untuk Tuhan! Jadi bukan 10 % saja yang itupun ada sejumlah orang sudah bersungut-sungut dan menentang dengan dalih ini dan itu.
Tuhan memang tidak melihat jumlah. Tuhan itu melihat hati. Tetapi jika hati kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan firman-Nya, kita akan melakukan yang terbaik. Kita akan memberi yang terbaik. Hal yang terbaik dan yang datang dari hati, biasanya merupakan suatu jumlah yang besar.
Kemurahan hati memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan penyangkalan diri yang terus-menerus untuk bisa menjadi orang yang murah hati. Tetapi kita sudah memperoleh kemurahan hati yang luar biasa dengan menerima anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus berikan dari atas kayu salib, hal yang kita tidak pernah akan sanggup untuk membayarnya. Jika kita sudah menerima kemurahan hati, bukankah sudah wajar kita juga membayar dengan kemurahan hati?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar