Kamis, 17 Desember 2015

cara kita untuk mengatasi luka hati, patah hati, dan sakit hati



Entah ini ke berapa kalinya dia mencuekkan aku. Telepon tidak diangkat, nda ada respon balik, juga tidak sms, bbm tidak aktif, email tidak dibalas. ‘Kekasih’, ‘pacar’  itu hanya sebuah istilah untuk status, apa yang sebenarnya di dalam pikirannya, aku tidak mengerti.

Buat kalian yang senang mencuekin orang laen, aku harap kalian mengerti betapa pedihnya hati ketika kita dicuekin, dikacangin, tidak dianggap ada. Dan betapa hina dan tidak berartinya kita. Semua itu membuat hatiku sakit, pedih, pilu. :((

Kalian tahu gimana rasanya menangis, ini sampai-sampai aku tidak bisa menangis lagi. Dan akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri saja hubungan ini, namun memang harus ku akui sulit mengatasi sakit hati, biarlah air mata mengalir...membasuh luka hati.

Bagaimana cara kita untuk mengatasi luka hati, patah hati, dan sakit hati ini?
1.        Ceritakan pada Tuhan semua yang kita alami, jujur dan terbuka, apa adanya. Kita boleh koq curhat semua perasaan kita sama Tuhan, kan Dia adalah sobat sejati yang tidak mungkin mengkhianati kita. Jangan lupa minta kepadaNya untuk memulihkan luka hati kita.  Jangan sampai hati kita beku dan kehilangan kasih.
2.        Tetapkan hati, jangan bimbang.  Inti nya percayalah bahwa Tuhan hidup dan melihat semuanya.  Air mata yang mengalir, biarlah, tapi jangan berlarut-larut.
3.        Tetap lakukan yang terbaik. Apa yang ditabur, itu yang akan dituai. Jangan putus asa.
4.        Bersyukurlah atas segalanya yang terjadi. Mungkin tidak mengerti kenapa, tapi dengan tetap bersyukur, hati kita akan lebih ikhlas, dan kita akan belajar menerima kenyataan yang tidak seindah mimpi.
5.        Dan jika kita belum melihat jalan yg selalu didengungkan “ indah pada waktuNya”, maka coba dipahami lagi, kalau belum indah, mungkin ini belum waktuNya, dan kita belum selesai dengan prosesNya membentuk kita untuk jadi sempurna dalam karakter kita.

Tentang segala yang terjadi, yang paling menghibur adalah, ingatlah bahwa semua ini akan berlalu.

Yang tinggal hanya iman, pengharapan dan kasih. Dan yg terbesar adalah kasih.

Rabu, 16 Desember 2015

Hal kecil yang bernilai BESAR




1. Seorang pelamar kerja memungut sampah kertas dari lantai & membuangnya ke tong sampah, hal itu terlihat oleh pengawas interview. Ia mendapatkan pekerjaan tsb. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup ”PELIHARA KEBIASAAN BAIK”.

2. Seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Seseorang mengantarkan sepedanya untuk di perbaiki. Selain memperbaikinya, si anak juga membersihkan sepeda itu hingga bersih mengkilap. Murid² lain menertawakannya. Saat sang Pemilik mengambil sepedanya, si anak di tawari kerja di tempatnya. Ternyata untuk berhasil sangat mudah, cukup punya ”INISIATIF” lebih saja.

3. Seorang anak berkata, “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu bertanya, “Mengapa?” Anak menjawab, “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah.” Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu ”TIDAK MARAH-MARAH”.

4. Seorang Pelatih bola bertanya, “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yg menjawab, “cari dari bagian tengah...” “cari di rerumputan yg cekung ke dalam...” “cari di rumput yg paling tinggi...”
Pelatih itu berkata, “Setapak demi setapak, cari dari ujung rumput terdekat hingga terjauh.” Ternyata jalan menuju keberhasilan tidaklah sukar, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara ”BERURUTAN”, JANGAN MELONCAT².

5. Ada Rombongan yg berjalan di padang pasir. Semua berjalan dgn berat, sangat menderita. Hanya 1 orang yg berjalan dengan gembira. Ada yg bertanya, “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa, “Karena barang bawaan saya sedikit.”
Ternyata mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup ”TIDAK SERAKAH” & membawa ”BEBAN SECUKUPNYA”.

“Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal, sebagaimana melakukan hikmat bagi orang yang pandai.” (Amsal 10:13)

Selasa, 15 Desember 2015

mengapa semua barang dimasukkan ke dalam mulut sama anak batita ??


Sering merasa gemas dengan perilaku anak yang kerap memasukkan benda apa pun ke dalam mulutnya? Rasanya ingin berteriak dan melarangnya setiap kali ia melakukan hal tersebut. Tapi, ternyata hal ini tidak disarankan, Ma. Inilah yang disebut fase oral. Menurut dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH dari Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, fase oral akan membantu perkembangan keterampilan anak di masa yang akan datang. Nah, supaya Anda tak terus-menerus gemas dan ingin melarang, yuk, cari tahu seputar fase oral ini!

Apa Itu Fase Oral?
Berdasarkan perkembangan anak, fase oral adalah tahap perkembangan area oromotor (otot daerah mulut dan pencernaan) yang berpengaruh pada perkembangan lainnya seperti berbicara dan makan. Pada fase ini bayi memusatkan stimulus pada daerah mulut dan bibir. Ia akan berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke dalam mulut karena menganggap mulut adalah tempat pemuasan kebutuhannya (oral gratifi cation). Dalam dunia psikologi, fase oral merupakan tahap pertama perkembangan psikoseksual yang pasti dilalui setiap orang. Sejak dalam kandungan sebenarnya anak telah memasuki fase oral, yaitu dengan memasukkan jempolnya ke dalam mulut (tak heran banyak janin terekam sedang mengisap jempol saat USG 4 dimensi!). Namun, umumnya, fase oral dimulai sejak anak lahir hingga usia sekitar 18 bulan. Pada beberapa kasus, fase oral berlanjut hingga usia balita, misalnya dengan mengisap jempol atau thumb sucking hingga usia 5 tahun.

Pentingnya Fase Oral
Lalu, apakah semua bayi pasti akan mengalami fase oral? Menurut dr. Bernie, ya, karena fase ini merupakan dasar perkembangan selanjutnya. Fase oral memengaruhi kematangan otot di daerah rongga mulut. Jika otot telah terbentuk matang, anak akan terbantu dalam mengembangkan kemampuan makan dan berbicara. Dokter Bernie mengatakan, pada anak yang sering dilarang atau dimarahi orang tuanya ketika memasukkan jari maupun mainan ke dalam mulut, fase oralnya menjadi tidak maksimal. Artinya, hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan kematangan daerah rongga mulut sehingga mengganggu kemampuan berbicara dan makan. Contohnya, ada anak usia 2 tahun yang belum mampu mengunyah nasi dan harus terus makan bubur. Dari sisi psikoseksual, anak yang banyak dilarang saat fase oral akan merasa cemas dan tegang. Akibatnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang.

Tips agar anak mau tidur siang



Anak menolak tidur siang biasanya dialami anak yang sudah memasuki usia 2 tahun, ketika ia sudah mampu bilang ‘tidak’ pada apa pun yang mama katakan. Agar anak mau tidur siang, simak beberapa tip ini.

1. ATUR WAKTU.
Pastikan Anda mengajaknya tidur siang di saat yang tepat, yaitu setelah makan siang. Kenapa? Karena jarak waktunya sudah cukup jauh dari waktu bangun di pagi hari, dan perut kenyangnya pun akan membuatnya sedikit mulai lesu.

2. KONSISTEN.
Jaga ritual tidur siang seperti halnya Anda membuat ritual untuk tidur malamnya. Misal, bacakan buku tertentu menjelang waktu tidur siang, atau tidur siang di tempat yang sama setiap harinya (misal, kamar mama).

3. TAWARKAN SESUATU YANG POSITIF.
Bila anak menolak diajak tidur siang, katakan sesuatu yang positif, seperti, “Nanti kita bisa main lagi sesudah kamu bangun. Malah kamu akan merasa lebih kuat dibanding sebelum tidur siang.”

4. CIPTAKAN SUASANA TENANG.
Matikan TV, tutup pintu untuk meredam suara berisik di luar, dan bersantailah.

5. BUAT WAKTU TIDUR SIANG MENYENANGKAN.
Jangan sekali kali menjadikan tidur siang sebagai ancaman atau hukuman. “Kalau tidak mau makan,nanti mama kurung di kamar untuk tidur siang!” Hal ini akan membuat anak mengasosiasikan waktu tidur siang sebagai hal yang tidak menyenangkan.

bagaimana anak memandang kita ??



Setiap anak pasti mempelajari sesuatu pada setiap masa tumbuhnya. Namun, apa yang bayi usia 2-6 bulan ketahui tentang Anda?

Beberapa orang terlihat lebih seperti Anda ketimbang yang lainnya. Bayi tidak hanya mengenali wajah Anda sejak awal (dan selalu suka melihatnya!). Namun, pada usia 10 – 12 minggu, ia sudah tahu apakah orang-orang yang ditemuinya itu berjenis kelamin yang sama atau tidak dengan Anda. Dalam beberapa studi, Paul Quinn, Ph.D., profesor psikologi pada University of Delaware, menemukan bahwa bayi yang berusia 3 – 4 bulan lebih menyukai wajah wanita.

Apakah ini berarti bayi diprogram untuk lebih memilih wanita? Tidak juga, sih. Ternyata, ini karena anak yang diteliti dalam studi-studi memiliki mama yang merupakan pengasuh utamanya. Dalam studi yang lain, Quinn menemukan, bayi yang papanya adalah pengasuh utamanya memang paling senang melihat wajah laki-laki. “Menurut kami, bayi menjadikan pengasuh utamanya sebagai standar untuk membandingkannya dengan orang lain,” katanya. Dengan kata lain, anak mungkin akan melihat orang baru dan berpikir, “Hmmm… Seberapa mirip, sih, kamu seperti orang yang mengasuh aku?”

Sesekali Anda merasa sedih atau bingung. Seperti ketika Anda menenangkan bayi yang sedang sedih, ia akan melakukan hal serupa (yang terbaik baginya!) untuk menghibur Anda yang sedang sedih. Antara usia 1,5 – 6 bulan, bayi bisa membedakan ekspresi wajah yang berlainan dan berharap tatapan bahagianya pada Anda akan membuat Anda tersenyum. Ia akan bingung, bahkan kecewa, jika Anda tidak melakukannya. Penelitian menunjukkan, saat mama tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, bayinya akan berusaha keras untuk membuat si mama tersenyum. Bagaimana caranya? Dengan menyeringai dan membuat suara ahh atau uhh (cooing). Karena bayi Anda bisa merasakan bagaimana perasaan Anda, jangan heran jika ia melakukan sesuatu saat Anda merasa stres.

Anda sangat lucu. Anda membuat mimik lucu, meniup raspberries, menaruh popok di kepala, dan tertawa terbahak-bahak ketika dihibur anak. Pada usia 6 bulan, bayi mulai mengembangkan kemampuan humornya. Dan, yang akan membuatnya terpingkal-pingkal adalah melihat atau mendengar sesuatu yang tidak diduga-duga atau aneh. Namun, tidak semua orang bisa menjadi komedian, kan? Dan, sebagian alasan dari anak tertawa adalah ia tahu seperti apa penampilan Anda dan bagaimana biasanya Anda berperilaku. Jika bayi melihat papa mengambil popok dan mengayun-ayunkannya dengan gigi, bisa jadi ia merasa takut. Namun, bila Anda yang melakukannya, bisa jadi ia merasa Anda sangat lucu. Bagaimana pun, semua ini tergantung pada kelekatan yang terjalin antara Anda dan anak.