Kamis, 24 Juli 2014

TIP: JADILAH SEORANG PEMIMPIN PEMBELAJAR



Salah satu kriteria yang diharapkan ada di dalam diri seorang pemimpin guna menghadapi segala dinamika dan tantangan dalam perusahaan adalah mental pembelajar. Kualitas ini sangat diperlukan sebab memengaruhi cara pandang serta sikapnya terhadap perubahan. Karena hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, menjadi pemimpin yang adaptif, pro, atau bahkan menjadi penggagas perubahan merupakan suatu nilai lebih dari seorang pemimpin sejati. Mental pembelajar ini merupakan bagian dari karakteristik dan ciri pemimpin yang matang dan dewasa. Dan, ini tidak muncul dalam sekejap, tetapi merupakan suatu sikap yang harus ditempa terus-menerus sejalan dengan usahanya meraih kursi kepemimpinan.


Sebelum menjadi pemimpin, Anda pasti berusaha keras dan terus belajar meningkatkan kompetensi diri. Ketika Anda berhasil meraihnya, mental serta semangat belajar yang Anda miliki tersebut sebaiknya tidak hilang begitu saja. Sebab sejatinya, belajar merupakan proses seumur hidup yang tidak berkesudahan. Pemimpin yang berorientasi pada tujuan untuk menjadi "long life learner" (pembelajar seumur hidup) daripada "long life leader" (pemimpin seumur hidup) tidak menganggap prestasinya sebagai seorang pemimpin sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai suatu kesempatan dan sumber pembelajaran baru baginya.

Ciri-ciri yang menonjol dari seorang pemimpin pembelajar adalah keterbukaannya terhadap perubahan, siap menerima kritik/saran dari siapa saja, seorang pendengar yang baik, selalu haus akan ilmu pengetahuan dan informasi, selalu berupaya meningkatkan kemampuan dirinya, fleksibel, dan dinamis. Adakah ciri-ciri tersebut pada diri Anda? Jika belum, masih ada cara lain untuk menumbuhkan mental pembelajar, yang sebenarnya ada dalam setiap individu.

1. Jadikan semua hal sebagai sumber pembelajaran.
Ilmu dapat datang dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Bahkan, jika kebenaran itu berasal dari seorang yang Anda tidak perhitungkan, hal tersebut tetaplah berharga. Perkaya terus pengetahuan Anda lewat buku, majalah, jurnal penelitian atau tulisan di blog, mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan, serta belajarlah dari pengalaman hidup, baik milik Anda sendiri maupun orang lain.

2. Bergaullah dengan para intelektual.
Tidak hanya dengan orang-orang yang memang jenius atau ahli di bidangnya, tetapi juga mereka yang memiliki semangat belajar sama seperti Anda. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan ilmu yang diperlukan sekaligus tertular oleh hasrat mereka yang besar dalam menimba ilmu.

3. Start thinking on your own (Mulailah berpikir sendiri).
Berbagai teori dan fakta dari para ahli telah Anda baca dan pahami dengan baik. Sekarang, saatnya membuat semua itu dengan bahasa Anda sendiri. Materi tersebut hanyalah inspirasi dan pegangan bagi Anda untuk menghasilkan ide baru yang memang hasil dari pemikiran Anda sendiri. Jangan memanjakan otak Anda dengan hanya menerima ide-ide orang lain tanpa repot-repot berpikir.

4. Aplikasikan ilmu yang Anda dapatkan.
Suatu teori tidak akan terbukti efektif jika tidak diaplikasikan. Misalnya, Anda belajar tentang cara menjadi pemimpin yang mengayomi, tetapi kenyataannya Anda bersikap acuh terhadap kepentingan karyawan. Maka, sungguh mubazir ilmu yang Anda pelajari tersebut. Fasih dalam teori bukan berarti Anda bagus dalam praktik. Oleh karena itu, terapkan ilmu yang Anda dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Ajarkan ilmu Anda pada orang lain.
Ilmu akan semakin bermanfaat jika terus diajarkan kepada orang lain. Selain pemahaman Anda akan semakin bertambah mantap, Anda juga bisa memperkaya jiwa orang lain. Sebuah lingkaran kebaikan yang baik dan positif. Anda bisa mulai dengan membahasnya sedikit dalam rapat atau jika sudah merasa siap, Anda bisa mengadakan pelatihan intern, dengan Anda sebagai mentornya.

Seorang pemimpin pembelajar haruslah memiliki kesadaran diri (self-awareness) bahwa ia masih perlu meningkatkan kapasitasnya, kemudian ia menyadari (self-acceptance) bahwa dirinya tidak terlepas dari kesalahan dan masih harus banyak belajar. Kejujuran untuk mengakui kelemahan diri dan mau menerima pelajaran dari orang lain sangat penting untuk menumbuhkan mental pembelajaran dalam diri seorang pemimpin.

"Hidup kudus dimulai dari hati yang takut kepada Tuhan." (Manati I. Zega)

Sifat-Sifat Kepemimpinan



Kita tidak bisa berkompromi ketika berbicara tentang sifat-sifat kepemimpinan. Sebab, sifat-sifat ini sangat penting untuk mengembangkan kepemimpinan dan karakter yang andal. Ciri-ciri kepemimpinan berikut ini tidak hanya membantu kita agar tetap menjadi orang Kristen yang kuat, tetapi juga memungkinkan kita untuk menjadi pemimpin yang andal:

1. Tekun: Kemampuan untuk bertahan dalam keadaan yang sulit dan dengan orang-orang yang sulit adalah kunci menuju kepemimpinan yang kuat. Setiap hari kita menghadapi godaan untuk menyerah, akan tetapi rencana Allah bagi kita adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11). Karena itu, kita memiliki alasan yang kuat untuk yakin bahwa Ia akan memberi kita keberanian untuk terus maju.

2. Bertanggung jawab: Seorang pemimpin yang andal tidak takut untuk mengambil tanggung jawab, bahkan ketika keadaan menjadi sulit atau berjalan serba salah. Seseorang yang bertanggung jawab tidak akan menyalahkan orang lain hanya karena dia memiliki otoritas untuk melakukannya. Ia bersedia menanggung kesalahan itu dan kemudian melihat apa yang akan dilakukan Allah. Bahkan, di kalangan Kristen, kita sering mendefinisikan tanggung jawab (responsibility) sebagai tanggapan kita terhadap kuasa Allah (response to God’s ability).

3. Rendah hati: Kita menunjukkan kerendahan hati yang sejati ketika kita memiliki sesuatu (berwujud atau tidak berwujud) dan dengan sukarela menyerahkannya. Ini tidak selalu mudah bagi orang-orang dalam posisi kepemimpinan. Kita juga menunjukkan kerendahan hati dengan tidak memuji diri sendiri meskipun kita layak mendapatkannya (Amsal 27:2), dengan menjadi pelayan bagi semua orang (Matius 20:26), dengan tidak memilih tempat terhormat (Lukas 14:10), dengan membiarkan Allah membela Anda (Lukas 12:11), dan dengan ketundukan kepada orang yang lebih tua (1 Petrus 5:5,6). Tidak ada yang menyukai seorang pemimpin angkuh. Sebaliknya, semua orang menghormati pemimpin yang rendah hati.

4. Percaya diri: Sebagai orang percaya di dalam Kristus, kita memiliki kepercayaan diri yang diberikan Tuhan, yang memungkinkan kita untuk melaksanakan tugas yang paling sulit sekalipun. Filipi 4:13 meyakinkan kita bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu di dalam Kristus yang memberi kita kekuatan. Pemimpin Kristen yang andal memiliki kepercayaan diri yang sehat, tidak egois, dan berpusat pada Allah.

5. Jujur: Tidak ada yang mencemarkan nama seorang pemimpin dengan lebih cepat selain ketidakjujuran. Kebenaran dan rasa takut pada manusia tidak bisa hidup berdampingan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang andal dan dapat dipercaya, seseorang harus bersikap jujur setiap saat dan dalam segala hal. Kita menunjukkan kejujuran melalui perbuatan dan juga kata-kata. Seseorang berkata, "Kebenaran tidak perlu berteriak; kebenaran berbicara atas nama dirinya sendiri."

6. Sabar: Seperti apakah pemimpin yang sabar itu? Kesabaran menunjukkan toleransi dan kasih karunia kepada orang lain. Selain itu, sabar berarti menerima situasi yang sulit tanpa bereaksi negatif. Kesabaran menolak untuk mengajukan tuntutan atau membuat syarat yang meletakkan orang lain pada tingkat yang tidak realistis. Kesabaran itu menantikan Tuhan.

7. Berintegritas: Seorang pemimpin yang andal harus memiliki tingkat integritas yang tinggi. Integritas adalah ketaatan kepada nilai-nilai kode moral yang mencakup kehormatan, kebenaran, dan dapat dipercaya. Integritas memungkinkan seseorang untuk menepati janji dan melakukan yang terbaik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

8. Setia: Seorang pemimpin yang setia tidak akan terhempas oleh gelombang kehidupan, tetapi akan tetap teguh pada panggilannya. Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau, pemimpin yang setia tetap berkomitmen kepada hal-hal yang telah Allah tetapkan saat memanggil mereka untuk melayani, bahkan dalam masa-masa yang sulit.

9. Berhati hamba: Pemimpin yang berhati hamba berarti menjalankan kepemimpinan ilahi seperti yang dilakukan Kristus: ia memengaruhi, melengkapi, dan memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan dan rencana Allah. Pemimpin berhati hamba tidak melihat tugas apa pun sebagai tugas yang hina dan bersedia untuk bekerja lebih keras agar menjadi sebuah teladan yang nyata bagi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Robert Greenleaf berkata, "Para pemimpin yang baik harus terlebih dahulu menjadi hamba yang baik."

10. Bersikap hormat: Seorang pemimpin yang dapat dipercaya dan diikuti adalah seseorang yang menghormati orang lain. Para pemimpin ini melihat posisi mereka dan posisi orang lain sebagai karunia dari Allah. Karena itu, ia memperlakukan mereka dengan rasa hormat dan menghargai. Seorang pemimpin yang andal tidak akan memperlakukan orang lain dengan tidak hormat, baik di depan umum atau secara pribadi.

11. Mampu mengendalikan diri: Pemimpin yang kuat mampu menahan diri dan mendisiplin perilaku mereka. Mereka selalu sadar bahwa posisi mereka sebagai pemimpin menuntut mereka untuk memberikan contoh yang baik untuk diikuti orang lain.

12. Penuh kasih sayang: "Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!" (Zakharia 7:9) Pemimpin yang kuat tidak buta terhadap kebutuhan orang lain. Sebaliknya, mereka akan mengalahkan keinginan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang-orang dalam posisi kepemimpinan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

13. Saleh: "Ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:8) Pemimpin yang baik tahu bahwa penampilan luar tidak begitu penting ataupun abadi; akan tetapi, apa yang ada di dalam batin merekalah yang paling penting. Hidup kudus lebih penting bagi mereka daripada posisi yang mereka pegang.

14. Berani: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Jangan takut dan jangan gemetar karena mereka." (Ulangan 31:6) Pemimpin yang kurang berani akan memerintah menuruti mayoritas dan mengikuti ke mana angin bertiup, namun pemimpin yang memiliki keberanian, tidak akan mundur.

Abraham Lincoln berkata, "Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, berilah dia kekuasaan." Entah kita adalah pemimpin dari banyak atau satu orang, orang dewasa atau anak-anak, sifat-sifat karakter ini penting untuk memastikan kita dapat dipercaya dan andal. Tidak pernah sebelumnya pemimpin seperti ini begitu diinginkan dan dibutuhkan. Marilah kita berusaha untuk menjadi pemimpin seperti itu. Karena, jika kita tidak memimpin, orang lainlah yang akan melakukannya. (t/Jing Jing)

BERTUMBUH DALAM KEPEMIMPINAN



Jangan hanya berbagi kesedihan pada Tuhan, Sahabatmu, bagikan juga syukurmu atas semua kebaikan-Nya.

Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesaya 1:17)





kepemimpinan Kristen tertentu yang nyata dalam diri kita -- karena setiap orang adalah pemimpin bagi orang lain.

Sebagai orang Kristen, kita semua adalah pemimpin dalam kapasitas tertentu, baik di tempat kerja, gereja, atau di rumah kita. Kita berutang kepada orang-orang di sekitar kita untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan kita sambil membantu orang lain mengembangkannya. Semua orang memiliki potensi kepemimpinan, yang perlu dilakukan adalah mengembangkannya.



Kita tidak mendasarkan kelayakan kepemimpinan seorang Kristen pada keterampilan ataupun kemampuannya, tetapi pada statusnya sebagai ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Ketika Allah mengangkat seseorang untuk mengisi posisi kepemimpinan, Ia akan menolongnya dalam melakukan tugas itu.

Seorang pemimpin juga seorang manusia, mereka pun memiliki kelemahan. Bahkan, Paulus berbicara tentang sifat manusiawinya yang lemah dalam Roma 7:14-25 ketika ia menggambarkan pergumulannya dengan dosa.

Otoritas yang Terbatas

Ketika kita menerima otoritas, orang memercayakan kekuasaan kepada kita -- kuasa yang dapat menjadi berkat atau kutuk bagi orang lain. Ketika kita melaksanakan otoritas, kita harus ingat bahwa kita adalah utusan Allah. Jika kita tidak mengenali dan mengakui bahwa otoritas ini adalah pemberian Allah, kita akan mudah memakai otoritas tersebut untuk menguntungkan diri kita sendiri.

Allah menempatkan kita dalam otoritas atas orang lain sehingga kita dapat melayani dan mengasihi mereka di dalam nama-Nya (lihat Matius 20:25-28). Otoritas yang melayani dan mengasihi akan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Chuck Colson mengingatkan kita, "Sulit untuk berdiri di atas sambil membasuh kaki orang-orang yang ada di bawah."

Karena ada batasan untuk otoritas, masalah pun muncul ketika figur yang diberi otoritas itu melangkah ke luar dari batasan tersebut. Tuhan memberi Adam dan Hawa otoritas, tetapi dengan batasan. Kita tahu apa yang terjadi ketika mereka melewati batas-batas itu.

Setan mencobai Adam dan Hawa dengan memusatkan perhatian mereka pada satu hal yang tidak dapat mereka lakukan, bukan pada semua hal yang dapat mereka lakukan. Setan menggunakan taktik yang sama pada kita: dia membuat kita terganggu oleh beberapa hal yang tidak dapat kita lakukan, dan kita segera menjadi tidak puas dengan apa yang dapat kita lakukan.

Penyalahgunaan otoritas dimulai dari bertindak di luar kehendak Dia yang memercayakan kekuasaan kepada kita. Sebuah penyalahgunaan otoritas tidak selalu terlihat sama pada setiap orang. Penyalahgunaan otoritas ini mungkin tampak pada reaksi yang berlebihan atau bahkan reaksi yang kurang terhadap suatu masalah, porsi tindakan yang tidak tepat itu ditunjukkan melalui kemarahan, intimidasi, kekerasan, teriakan, ancaman, dan banyak lagi. Dalam menjalankan sebuah otoritas, seorang pemimpin tidak boleh hanya sekadar menunjukkan kekuasaan, melainkan harus selalu memiliki tujuan.

Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang salah secara moral. Hal itu berada di luar batas otoritasnya. Prinsip ini berlaku bagi seorang pemilik usaha, pejabat pemerintah, atau pemimpin rohani sekalipun.


TIP: KETERAMPILAN MEMBAGI TUGAS




Saat menghadapi timbunan pekerjaan, dan Anda berlomba dengan waktu, mungkin Anda akan mendelegasikan tugas-tugas rutin yang membosankan hanya supaya tugas-tugas itu diselesaikan dengan cepat. Akan tetapi, tidak semua tugas di meja Anda mendesak, jadi Anda harus mampu menggunakan prinsip pendelegasian dengan tepat untuk tugas-tugas tersebut. Berikut ini ada beberapa langkah untuk mendelegasikan tugas agar dapat berhasil dengan baik.

1. Meninjau Kembali Tugas yang Akan Didelegasikan dan Menyiapkan Tujuan
Menyiapkan tujuan merupakan langkah pertama dalam hampir semua keterampilan manajemen karena jika Anda tidak mengetahui ke mana Anda pergi, kesempatan Anda untuk tiba di tujuan akan sungguh terhalang. Sebuah sasaran merupakan suatu tujuan: sekali Anda mengetahuinya, Anda dapat merencanakan jalurnya, memperkirakan berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sana, mengetahui apakah alternatif lain atau jalan pintas akan menolong atau tidak, dan mengetahui apabila Anda telah mencapai akhir perjalanan.

Jadi, mulailah dengan mengidentifikasi tugas dan menyiapkan sasaran untuk tugas tersebut. Kumpulkan sekelompok tugas yang memiliki sasaran sama. Jadi, jika Anda perlu mengerjakan beberapa penelitian untuk proposal Anda, carilah seseorang untuk melakukan semua itu -- pembiayaan, tampilan data, pilihan paket, perbandingan pesaing, dan yang lainnya. Sasarannya adalah untuk menemukan data yang akan mendukung proposal Anda dan membuatnya menjadi lebih meyakinkan.

2. Tetapkan Siapa yang Akan Mendapat Delegasi Tugas
Tidak semua tugas akan cocok untuk semua orang. Jika waktu bukanlah masalah utamanya, cobalah untuk "meregangkan" orang dengan tugas yang Anda delegasikan kepada mereka. Mereka akan mengetahui bahwa itu berguna. Bahkan, tugas yang penting dapat diberikan kepada seseorang yang terampil dan memiliki kemampuan walaupun dia tidak memiliki pengalaman terhadap tugas tersebut. Dengan cara itu, Anda terus-menerus membangun pengalaman dan kemampuan tim Anda.

Demikian juga, tidak ada gunanya memberikan tugas yang tidak sesuai dengan orang yang menerima tugas itu. Itu hanya akan menyia-nyiakan bakatnya. Jika Anda ingin seseorang melakukan penelitian Anda, carilah seseorang yang cukup metodis dan memiliki kemampuan yang baik untuk berinteraksi dengan orang-orang jika mereka perlu mendapatkan informasi tentang para pesaing dari para pemasok, atau untuk membujuk seseorang yang sibuk meluangkan waktunya untuk membantu mencari data-data. Jangan mendelegasikan tugas itu kepada seseorang yang berpikiran pendek, yang baik dalam memulai segala sesuatu, namun kemudian ingin cepat-cepat memulai tugas berikutnya tanpa melihat hal itu secara mendalam.

Berpikir cerdas: Ketika Anda dikejar waktu, carilah orang yang berpengalaman.

Jika Anda sedang terburu-buru, merupakan ide yang baik untuk mendelegasikan tugas kepada seseorang yang sudah mengerti bagaimana menjalankan tugas itu dengan bantuan yang relatif sedikit dari Anda. Namun, jika Anda memiliki waktu, berusahalah untuk mencari seseorang yang akan lebih "diregangkan" dengan tugas itu, dan yang akan belajar dari tugas tersebut. Sekali Anda melatih mereka, mereka akan termotivasi dan Anda akan memiliki seseorang lain yang terampil untuk kembali mendapat tugas di waktu mendatang.

3. Tetapkan Parameter/Ukuran
Anda memberikan delegasi tugas kepada seseorang dengan sebuah sasaran. Mereka perlu tahu apa yang seharusnya mereka capai dan alasannya. Namun, mereka akan membutuhkan lebih daripada itu. Mereka akan ingin mengetahui berapa waktu yang mereka miliki, otoritas apa yang mereka miliki (misalnya, untuk mendapat masukan dari orang lain), dan sebagainya. Jadi, Anda perlu menyediakan:
- sasaran,
- batas waktu,
- standar kualitas,
- anggaran pendanaan,
- batasan otoritas, dan
- rincian berbagai sumber daya yang tersedia.

Namun, Anda tidak perlu mengatakan bagaimana cara mereka melakukan tugas tersebut. Anda hanya harus memberi tahu semua hal yang mereka butuhkan untuk memberikan hasil yang Anda inginkan -- termasuk kapan Anda menginginkan hasil itu, berapa biaya yang Anda inginkan, dsb.. Namun, tentang bagaimana cara mereka mencapainya, itu terserah mereka. Untuk kembali pada analogi sasaran sebagai tujuan, mereka bebas untuk merencanakan jalur yang ingin mereka tempuh selama mereka dapat tiba tepat waktu, menggunakan bahan bakar dalam jumlah yang dapat diterima, dan tidak menghancurkan mobilnya. Apa pun cara yang mereka gunakan, mintalah mereka menggambarkan rute yang mereka tempuh, namun jangan membuat mereka mengubahnya sesuai keinginan Anda. Jika Anda mendapati ada masalah yang belum mereka antisipasi, tunjukkan dan biarkan mereka mencari penyelesaiannya.

4. Periksalah Apakah Mereka Mengerti
Doronglah mereka untuk membicarakan tugas itu dengan Anda sehingga Anda dapat memastikan bahwa mereka sungguh-sungguh memahami apa yang diperlukan dan alasannya. Anda dapat memberikan beberapa ide selama Anda tidak mengarahkan mereka untuk mengadopsi pendekatan Anda.

5. Berikan Mereka Dukungan
Dukunglah sebisa Anda. Berikan jalan dengan meminta pimpinan departemen lain untuk ikut memberi dukungan dari timnya; katakan kepada mereka di mana dapat memperoleh informasi yang Anda ketahui namun tidak mereka ketahui; berikan akses kepada dokumen-dokumen yang membantu, biarkan mereka memiliki salinan dari rancangan proposal yang akan mereka lakukan (saya menganggap Anda menulis rancangan secara umum sebagai kelanjutannya).

Berpikir cerdas: Menggandakan
Jika tugas yang ada merupakan sebuah proyek yang besar, atau jika itu proyek kecil namun dengan waktu yang terbatas, Anda selalu dapat mendelegasikannya ke lebih dari satu orang. Biasanya, pendekatan terbaik adalah dengan menunjuk seorang pimpinan proyek. Anda juga harus memberikan pengarahan kepada setiap orang secara bersamaan sehingga mereka semua dapat mengetahui apa yang perlu dilakukan.

6. Amati Kemajuan Mereka
Jadwalkan sesi tanya jawab untuk proyek utama yang berjangka panjang. Bahkan, untuk sebuah tugas yang singkat, periksalah bagaimana itu berjalan -- sering kali, tanya jawab secara informal lebih berhasil daripada sesi formalnya. Ini memberi mereka kesempatan untuk memeriksa bersama Anda bahwa mereka berada di jalurnya, bahwa mereka tidak menghabiskan waktu pada terlalu banyak detil, atau kehilangan sudut pandang. Ini akan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam pekerjaan yang mereka lakukan, dan meyakinkan Anda kembali bahwa segala sesuatu berada pada jalurnya.

Namun, mengamati tidaklah berarti ikut campur. Perhatikan tanda-tanda ketika mereka membuat kesalahan dan tidak menyadarinya, namun jangan terlalu rewel dengan kesalahan yang berulang. Hal tersebut tidak dapat dielakkan, dan Anda sendiri mungkin juga melakukan kesalahan-kesalahan yang sama jika Anda yang melakukan tugas tersebut. Anda harus ikut campur hanya jika terjadi kesalahan serius, dan dalam kerangka untuk mengembalikan pekerjaan pada jalurnya. Mengalihkan sebuah tugas dari seseorang merupakan pelemahan motivasi yang sangat dalam dan hanya boleh dilakukan dalam situasi yang sangat ekstrem. Jika Anda mendelegasikan tugas secara benar dari awal, seharusnya itu tidak terjadi.

7. Evaluasilah Hasil Pekerjaan Mereka
Setelah tugas diselesaikan, duduklah bersama dengan anggota tim yang terlibat dan evaluasilah apa yang telah mereka jalani. Berikan pujian dan pengakuan yang diperlukan, bahkan, jika hasilnya mengecewakan pun, cobalah temukan aspek-aspek lain dari hasil yang telah mereka capai untuk dipuji. Pastikan bahwa mereka dan Anda, telah belajar beberapa hal yang Anda butuhkan dari pelaksanaan kegiatan. Dan, ingatlah bahwa puncak tanggung jawab atas sebuah kegagalan, seperti halnya keberhasilan, berada di tangan Anda.

Berpikir Cerdas: Pengawasan
Hanya karena Anda dikejar waktu, bukan berarti Anda tidak dapat mengamati kemajuan. Lagi pula, Anda tetap perlu merasa yakin bahwa tugas dikerjakan secara tepat. Jika Anda telah mendelegasikan tugas mendesak yang harus diselesaikan di akhir waktu kerja, Anda tetap dapat memunculkan diri Anda di seluruh ruangan kantor di sepanjang sore hari, untuk memastikan bahwa segala sesuatu berjalan dengan baik.

Itu semua merupakan prinsip dasar dari delegasi. Jadi sekarang, lakukanlah itu, setidaknya sejauh yang dapat Anda paksakan dari waktu yang Anda miliki saat ini. Sebelum Anda bergerak untuk menghadapi pekerjaan Anda yang lain, kerjakan dan delegasikan segala sesuatu yang benar-benar penting dan harus diselesaikan dalam waktu 24 jam.

Sekarang, singkirkan sisa pekerjaan Anda lainnya untuk didelegasikan (tetap dalam kelompok tugas berdasarkan prioritas) sehingga Anda dapat mendelegasikannya di lain waktu dan memberi waktu untuk memikirkannya secara tepat, berdasarkan prinsip-prinsip yang telah kita lihat. Nah, seharusnya ada sejumlah besar timbunan pekerjaan Anda yang dapat diselesaikan.

Jadi, jangan memandang delegasi sebagai cara untuk mengurangi beberapa pekerjaan yang tidak Anda sukai atau karena tidak memiliki waktu untuk mengerjakannya. Sebenarnya, itu merupakan kesempatan kunci untuk melatih keterampilan Anda sebagai manajer dalam membangun sebuah tim.

Berpikir Cerdas: Majulah
Jika Anda mendelegasikan pekerjaan dengan baik pada saat Anda memerlukannya untuk diselesaikan, tentukanlah batasan waktu yang dapat memberi Anda waktu ekstra untuk membangun proyek Anda sendiri selanjutnya. Sebagai contoh, Anda dapat meminta penelitian untuk proposal Anda diselesaikan dan diberikan kepada Anda sepuluh hari sebelum Anda membuat proposal itu -- memberi Anda cukup waktu untuk menggabungkannya dengan tugas Anda sendiri. (t/Okti)

buku: Work Overload
Judul asli artikel: Delegation Skills



Kebanyakan orang tidak pergi meninggalkan organisasi, mereka pergi meninggalkan pemimpinnya. (Marcus Buckingham)