Selasa, 20 Oktober 2015

tips kepemimpinan dalam keluarga



Dalam keluarga, seorang pria terpanggil untuk memimpin istrinya. Walaupun pernyataan tersebut tidak umum lagi untuk masa dan budaya sekarang, tetapi orang Kristen haruslah memegang kebenaran ini. Jika tidak, kita akan jatuh dalam perangkap pengajaran yang salah.

Seorang suami yang saleh harus memimpin istri dan keluarganya. Mengenai suami sebagai pemimpin, Alkitab memberikan contoh utama dari kepemimpinan yang mendasar dalam Efesus 5:23. Lalu, kepemimpinan model apa yang telah ditunjukkan Kristus kepada gereja? Kristus sangat mengasihi jemaat-Nya sehingga Ia tidak pernah bersikap kasar, bertindak tidak sesuai, Ia tidak melakukan sesuatu yang muncul karena kemarahan dan sesuatu yang tidak adil. Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada jemaat, bahkan Ia menganggap jemaat lebih berharga daripada nyawa-Nya sendiri, Ia menyerahkan nyawa-Nya supaya jemaat hidup. Kristus adalah contoh "suami" saleh. Jadi, jika kita ingin memimpin keluarga yang setia kepada Kitab Suci, kita perlu mengenali cara Kristus mengasihi dan meneladani-Nya.

Dalam artikel, penulis menuliskan empat cara memimpin: dalam kepemimpinan, dalam ibadah, sebagai ayah, dan sebagai suami.

1. Memimpin dalam Kepemimpinan

Dalam keluarga, ada sub-sub kepemimpinan -- istri memimpin anak-anak dan anak yang lebih tua merasa menjadi pemimpin bagi adiknya di wilayah tertentu. Namun, seorang suami adalah pemimpin dari para pemimpin. Suami bertanggung jawab atas semua pengarahan, visi, dan kepemimpinan dalam keluarga. Dalam 1 Tim. 3:12 disebutkan bahwa seorang diaken harus dapat mengurus anak-anak dan rumah tangganya dengan baik. Ia dapat mengurus dengan baik karena memimpin dengan baik (bdg. Mat. 20:26-28), cara ini adalah kesempatan bagi suami untuk melayani dengan kepemimpinan sebagai pelayan, bukan bertindak sebagai tuan yang berkuasa secara sewenang-wenang atas keluarga. Seorang suami juga harus memastikan apakah kepemimpinan yang berada di bawahnya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sub-sub kepemimpinan di bawahnya.

2. Memimpin dalam Ibadah

Suami yang saleh memimpin keluarganya dalam ibadah. Ia memastikan bahwa anggota keluarganya beribadah dan beribadah dengan cara yang konsisten dengan Alkitab serta bijaksana dalam pemilihan gereja. Kita perlu memimpin keluarga kita dalam memilih gereja, menghadirinya, dan kemudian beribadah di sana.

Untuk memelihara iman yang sehat dan bertumbuh, sebuah keluarga harus mengadakan ibadah keluarga. Hal ini adalah praktik yang harus segera dimulai setelah menikah. Ibadah keluarga tidak harus panjang dan rumit, setidaknya ada pembacaan Alkitab dan doa bersama. Hal ini adalah kesempatan baik bagi seorang suami mengisi waktu dengan pembacaan Alkitab untuk keluarganya serta memastikan bahwa anggota keluarga memahami dan menerapkan firman Tuhan. Selain itu, penting juga untuk mengajarkan anak-anak bagaimana berdoa.

Tip: Jangan terlalu bergantung pada Alkitab anak-anak. Kita bisa mulai dengan "Alkitab Dewasa" untuk keluarga kita pada waktu makan. Untuk anak-anak yang masih kecil, sampaikan firman yang berupa narasi (cerita), lalu ketika mereka semakin dewasa, beralihlah pada literatur yang memuat doktrin dan hikmat. Kita perlu membaca untuk memastikan tingkat pemahaman anak-anak dan mencoba untuk menghafal ayat bersama-sama. Kita bisa lakukan ini dengan diawali doa dan dilengkapi pujian. Sediakan waktu dengan sengaja untuk melakukan kegiatan ini. Kita dapat memulainya sejak awal kita menikah dan terus mengaplikasikannya.

Seorang suami saleh akan bertindak lebih dari sekadar memastikan bahwa ia menghabiskan waktu pribadi untuk membaca Alkitab dan berdoa. Ia juga akan berusaha memastikan bahwa istrinya melakukan hal yang sama dengan membantu mencari waktu yang tepat bagi istri untuk melakukannya.

Ia juga akan membantu anak-anaknya memahami perlunya membaca Alkitab dan berdoa, memimpin, dan membantu mereka memahami apa yang mereka baca dan bagaimana menerapkannya. Meskipun mungkin ia tidak bisa ikut serta dalam kegiatan ini setiap hari, tetapi ia tetap memantau dan membimbing anak-anak.

Tip: Tanyakan kepada istri apakah dia sudah menentukan waktu khusus untuk membaca Alkitab dan berdoa. Jika ada kesulitan yang dihadapi, bantulah untuk menggantikan tugasnya.

3. Memimpin sebagai Ayah

Suamilah yang bertanggung jawab atas anak-anaknya, bukan istri. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa ayah harus bertanggung jawab dalam memimpin dan membesarkan anak-anak. Namun, hal ini tidak berarti istri berhak untuk tidak ikut serta dalam tanggung jawab ini. Suami harus memimpin dan bertanggung jawab untuk mengajar dan melatih anak-anak (Ef. 6:4) meskipun dalam beberapa hal, tugas ini bisa didelegasikan kepada guru sekolah, guru sekolah minggu, dst..

4. Memimpin sebagai Suami

Laki-laki sebagai pemimpin berarti bertanggung jawab atas kesejahteraan istri. Jadi, tergantung pada suami apakah ia mau memastikan bahwa istrinya memiliki waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa, memastikan bahwa suami hidup dengan damai bersama istrinya, dan doa-doanya tidak terhalang karena perselisihan di antara suami istri (1 Ptr. 3:7). Sebagai pemimpin, suami memiliki tanggung jawab dan beban yang lebih besar.


"Dunia tidak menyukai kekosongan", hal ini pun dalam kepemimpinan. Jika kita tidak mau memimpin keluarga kita, orang lain akan melakukannya; orang lain harus memimpinnya. Namun, Allah telah memanggil kita untuk memimpin, memimpin dengan sukacita dan kegembiraan, memimpin meskipun harus membayar dengan harga yang mahal, dan memimpin dengan kasih. Pimpinlah istri dan keluarga kita, dan lakukanlah semuanya demi kemuliaan Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar