Jangan hanya berbagi kesedihan pada Tuhan, Sahabatmu, bagikan
juga syukurmu atas semua kebaikan-Nya.
Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yesaya 1:17)
kepemimpinan Kristen tertentu yang nyata dalam diri kita --
karena setiap orang adalah pemimpin bagi orang lain.
Sebagai orang Kristen, kita semua adalah pemimpin dalam kapasitas tertentu, baik di tempat kerja, gereja, atau di rumah kita. Kita berutang kepada orang-orang di sekitar kita untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan kita sambil membantu orang lain mengembangkannya. Semua orang memiliki potensi kepemimpinan, yang perlu dilakukan adalah mengembangkannya.
Sebagai orang Kristen, kita semua adalah pemimpin dalam kapasitas tertentu, baik di tempat kerja, gereja, atau di rumah kita. Kita berutang kepada orang-orang di sekitar kita untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan kita sambil membantu orang lain mengembangkannya. Semua orang memiliki potensi kepemimpinan, yang perlu dilakukan adalah mengembangkannya.
Kita tidak mendasarkan kelayakan kepemimpinan seorang
Kristen pada keterampilan ataupun kemampuannya, tetapi pada statusnya sebagai
ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Ketika Allah mengangkat
seseorang untuk mengisi posisi kepemimpinan, Ia akan menolongnya dalam
melakukan tugas itu.
Seorang pemimpin juga seorang manusia, mereka pun memiliki kelemahan. Bahkan, Paulus berbicara tentang sifat manusiawinya yang lemah dalam Roma 7:14-25 ketika ia menggambarkan pergumulannya dengan dosa.
Otoritas yang Terbatas
Ketika kita menerima otoritas, orang memercayakan kekuasaan kepada kita -- kuasa yang dapat menjadi berkat atau kutuk bagi orang lain. Ketika kita melaksanakan otoritas, kita harus ingat bahwa kita adalah utusan Allah. Jika kita tidak mengenali dan mengakui bahwa otoritas ini adalah pemberian Allah, kita akan mudah memakai otoritas tersebut untuk menguntungkan diri kita sendiri.
Allah menempatkan kita dalam otoritas atas orang lain sehingga kita dapat melayani dan mengasihi mereka di dalam nama-Nya (lihat Matius 20:25-28). Otoritas yang melayani dan mengasihi akan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Chuck Colson mengingatkan kita, "Sulit untuk berdiri di atas sambil membasuh kaki orang-orang yang ada di bawah."
Karena ada batasan untuk otoritas, masalah pun muncul ketika figur yang diberi otoritas itu melangkah ke luar dari batasan tersebut. Tuhan memberi Adam dan Hawa otoritas, tetapi dengan batasan. Kita tahu apa yang terjadi ketika mereka melewati batas-batas itu.
Setan mencobai Adam dan Hawa dengan memusatkan perhatian mereka pada satu hal yang tidak dapat mereka lakukan, bukan pada semua hal yang dapat mereka lakukan. Setan menggunakan taktik yang sama pada kita: dia membuat kita terganggu oleh beberapa hal yang tidak dapat kita lakukan, dan kita segera menjadi tidak puas dengan apa yang dapat kita lakukan.
Penyalahgunaan otoritas dimulai dari bertindak di luar kehendak Dia yang memercayakan kekuasaan kepada kita. Sebuah penyalahgunaan otoritas tidak selalu terlihat sama pada setiap orang. Penyalahgunaan otoritas ini mungkin tampak pada reaksi yang berlebihan atau bahkan reaksi yang kurang terhadap suatu masalah, porsi tindakan yang tidak tepat itu ditunjukkan melalui kemarahan, intimidasi, kekerasan, teriakan, ancaman, dan banyak lagi. Dalam menjalankan sebuah otoritas, seorang pemimpin tidak boleh hanya sekadar menunjukkan kekuasaan, melainkan harus selalu memiliki tujuan.
Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang salah secara moral. Hal itu berada di luar batas otoritasnya. Prinsip ini berlaku bagi seorang pemilik usaha, pejabat pemerintah, atau pemimpin rohani sekalipun.
Seorang pemimpin juga seorang manusia, mereka pun memiliki kelemahan. Bahkan, Paulus berbicara tentang sifat manusiawinya yang lemah dalam Roma 7:14-25 ketika ia menggambarkan pergumulannya dengan dosa.
Otoritas yang Terbatas
Ketika kita menerima otoritas, orang memercayakan kekuasaan kepada kita -- kuasa yang dapat menjadi berkat atau kutuk bagi orang lain. Ketika kita melaksanakan otoritas, kita harus ingat bahwa kita adalah utusan Allah. Jika kita tidak mengenali dan mengakui bahwa otoritas ini adalah pemberian Allah, kita akan mudah memakai otoritas tersebut untuk menguntungkan diri kita sendiri.
Allah menempatkan kita dalam otoritas atas orang lain sehingga kita dapat melayani dan mengasihi mereka di dalam nama-Nya (lihat Matius 20:25-28). Otoritas yang melayani dan mengasihi akan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Chuck Colson mengingatkan kita, "Sulit untuk berdiri di atas sambil membasuh kaki orang-orang yang ada di bawah."
Karena ada batasan untuk otoritas, masalah pun muncul ketika figur yang diberi otoritas itu melangkah ke luar dari batasan tersebut. Tuhan memberi Adam dan Hawa otoritas, tetapi dengan batasan. Kita tahu apa yang terjadi ketika mereka melewati batas-batas itu.
Setan mencobai Adam dan Hawa dengan memusatkan perhatian mereka pada satu hal yang tidak dapat mereka lakukan, bukan pada semua hal yang dapat mereka lakukan. Setan menggunakan taktik yang sama pada kita: dia membuat kita terganggu oleh beberapa hal yang tidak dapat kita lakukan, dan kita segera menjadi tidak puas dengan apa yang dapat kita lakukan.
Penyalahgunaan otoritas dimulai dari bertindak di luar kehendak Dia yang memercayakan kekuasaan kepada kita. Sebuah penyalahgunaan otoritas tidak selalu terlihat sama pada setiap orang. Penyalahgunaan otoritas ini mungkin tampak pada reaksi yang berlebihan atau bahkan reaksi yang kurang terhadap suatu masalah, porsi tindakan yang tidak tepat itu ditunjukkan melalui kemarahan, intimidasi, kekerasan, teriakan, ancaman, dan banyak lagi. Dalam menjalankan sebuah otoritas, seorang pemimpin tidak boleh hanya sekadar menunjukkan kekuasaan, melainkan harus selalu memiliki tujuan.
Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang salah secara moral. Hal itu berada di luar batas otoritasnya. Prinsip ini berlaku bagi seorang pemilik usaha, pejabat pemerintah, atau pemimpin rohani sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar