Setiap perbuatan manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa pasti didasari pada suatu niat. Untuk anak-anak, saya bisa pastikan niatnya baik. coba kita belajar menghargai setiap niat anak-anak kita.
Namun terkadang kemampuan motorik dan logikanya dalam melakukan sesuatu belum berkembang sempurna sehingga niatan yang baik itu terkadang berubah wujud menjadi hal yang menurut kita tidak baik, bahkan menimbulkan masalah.
ada sebuah kisah yang cukup menarik
Suatu pagi seseorang (sebut saja namanya Anna) dikagetkan dengan suara barang pecah belah dari arah dapur. Saat ia bangun dari tempat tidur dan memeriksa dapur, ia menemukan anak lelakinya yang baru berusia 5 tahun sedang berada diantara pecahan piring dan gelas. Ada sekitar 3 piring dan 1 gelas yang pecah. Ia hanya berkata kepada putranya untuk tidak bergerak lalu membersihkan pecahan-pecahan tersebut. Setelah itu baru dia menghampiri putranya dan menanyakan apa yang terjadi.
Ternyata putranya itu pagi-pagi sudah bangun, mencoba membangunkan ayah ibunya. Keduanya tidak bangun, sehingga sang anak berasumsi mereka capek. Kemudian timbul pemikiran, “hey! kenapa tidak aku saja yang bikin sarapan? ayah ibu kan capek, biar aku saja, mereka tinggal makan.” Nah, niatnya baik, kan? Terbukti memang sudah ada 4 roti tawar di toaster. Itu membuktikan bahwa putranya tidak berbohong.
Lalu apa yang dilakukan oleh Angga?
Memarahi putranya tersebut? TIDAK SAMA SEKALI.
Ia tidak memvonis sebelum mencari tahu, itulah kenapa ia tidak langsung marah-marah ketika tahu ada gelas dan piring pecah. Setelah tahu apa yang terjadi, ia sangat menghargai niat yang baik dari putranya. Justru ia mengajarkan bagaimana cara melakukan hal itu tanpa memecahkan piring dan gelas. Bahkan besoknya ia membelikan piring dan gelas anti-pecah khusus untuk anaknya supaya putranya tidak menghabiskan piring dan gelas keramik.
pesan moralnya: JANGAN HENTIKAN NIAT BAIK ANAK, TAPI PERBAIKI CARA MEREKA MEWUJUDKANNYA.
Bagaimana menurut pendapat anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar