Jumat, 04 Desember 2015

cara mengenal ciri anak batita untuk mengajar di sekolah minggu



kita akan melihat terlebih dahulu beberapa ciri khas anak Usia Batita, kemudian diikuti dengan beberapa penerapan praktis yang dapat dilakukan oleh Guru SM.

  A. CIRI KHAS SECARA JASMANI
  ---------------------------
  1. Sangat aktif, senang berlari dan melompat. Oleh karena itu ruang
     kelas sebaiknya cukup luas/besar, dan perlu dipikirkan aktivitas
     fisik yang menunjang jalannya ibadah. Misalnya: sambil menyanyi
     anak diajak mengelilingi ruangan, atau dengan diiringi gerakan
     melompat, menari, bertepuk tangan, dsb.

  2. Belum dapat mengatur persendian otot-otot, sehingga mereka tidak
     dapat duduk tenang terlalu lama. Jadi, sia-sia saja jika Guru
     SM meminta anak Batita untuk duduk diam mendengarkan Firman Tuhan
     lebih dari 10 menit, apalagi bila cara penyampaiannya seperti
     "kotbah" yang monoton, monolog dan panjang.

  3. Pita suara belum berkembang secara sempurna. Pada saat bernyanyi
     jangan memaksa anak menyanyi dengan nada yang terlalu tinggi
     atau dengan suara keras. Tanpa disadari Guru sering meminta anak
     batita untuk menyanyi lebih keras. Mereka pikir semakin keras anak
     akan semakin bersemangat menyanyi. Hal ini tidak baik dilakukan,
     karena akibatnya anak justru menjadi berteriak-teriak dan membuat
     suasana gaduh.

  B. CIRI KHAS SECARA MENTAL
  --------------------------
  1. Daya konsentrasi sangat pendek dan mudah merasa jemu. Dituntut
     kreativitas bagi Guru Sekolah Minggu untuk menyampaikan Firman
     Tuhan. 'Teknik bercerita' tidak harus monolog atau hanya mendengar
     suara saja, karena akan membuat anak merasa jemu. Pakailah alat-
     alat peraga karena anak usia ini masih terbatas daya tangkapnya.
     Kemampuannya membayangkan (abstrak) juga masih sangat rendah.

  2. Rasa ingin tahu sangat besar, suka menjamah benda-benda yang
     ditemuinya. Karena itu, Guru perlu mempertimbangkan jenis alat
     peraga yang digunakan. Selain harus menarik juga yang tidak mudah
     rusak, karena kemungkinan besar anak akan berebut memegangnya.
     Jika tidak memungkinkan untuk dipegang (takut rusak) maka lebih
     baik ditempatkan ditempat yang tidak mudah dijangkau oleh mereka.

  3. Belajar melalui pancaindera (mendengar, melihat, meraba, mencium
     dan merasakan). Libatkan sebanyak mungkin pancaindera anak dalam
     kegiatan ibadah. Misalnya: mendengar suara-suara (tertawa, senang,
     menangis, dll.), melihat gambar-gambar (laki-laki, wanita, tua,
     muda dll.) atau memperagakan tindakan-tindakan (kesakitan,
     menolong orang, sombong, dll)

  4. Perbendaharaan kata masih sangat terbatas. Sehingga gunakanlah
     kata-kata yang sederhana dan konkrit, baik dalam bercerita atau
     berdoa. Perlu juga untuk mempertimbangkan pemilihan kata yang
     tepat sebelum Guru mempersiapkan sebuah cerita. Misal: kata
     "sedih" lebih mudah dimengerti daripada "berdukacita". Jangan
     memakai kata-kata abstrak yang sarat dengan konsep, misalnya:
     tanggungjawab, keselamatan, kebenaran, keadilan dll. Untuk itu
     lebih baik diganti dengan contoh-contoh kehidupan sehari-hari.
     Selain itu, karena pikirannya seringkali berjalan lebih cepat
     dibanding kemampuan berbicaranya, anak usia batita sering bicara
     tergagap-gagap. Guru harus peka terhadap situasi ini dengan
     menunjukkan perhatian dan kesabaran dalam menunggu (atau
     membantunya) mengungkapkan pikirannya dalam perkataan.

  C. CIRI KHAS SECARA EMOSI
  -------------------------
  Menyukai suasana yang sudah dikenal dan takut pada suasana atau
  orang yang asing. Untuk mengatasi hal ini jangan terlalu sering
  mengganti-ganti pengaturan kelas dan jangan membuat perubahan yang
  terlalu mencolok. Bila ada Guru baru, libatkan secara perlahan-lahan
  dan bertahap, jangan dalam pertemuan pertama langsung menyampaikan
  Firman Tuhan, ada kemungkinan suasana kelas akan menjadi "mati"
  (karena anak kurang meresponi). Mulailah dengan melibatkan guru baru
  tsb dengan mendampingi guru lama untuk menyanyi di depan kelas, lalu
  pada beberapa pertemuan berikutnya, beri kesempatan pada guru baru
  untuk memimpin pujian dengan didampingi guru lama, dan seterusnya
  sampai anak terbiasa dengannya. Guru baru dapat menyampaikan Firman
  Tuhan di depan anak-anak setelah ia mengenal baik anak-anak dan
  dikenal oleh anak-anak.

  D. CIRI KHAS SECARA SOSIAL/PERGAULAN
  ------------------------------------
  1. Sifat ketergantungan masih besar, namun juga ingin menonjolkan
     sifat kemandirian. Jika sudah mampu biarkan anak melakukan hal-hal
     yang mampu ia lakukan sendiri. Jika masih didampingi oleh orang
     dewasa (ibu/ayah/pengantar), biarkan mereka menunggu dari jarak
     yang bisa dilihat oleh anak, tapi jangan terlalu dekat.

  2. Egosentris, egoistis. Anak batita cenderung memperlakukan anak
     lain yang seumur dengannya sebagai suatu benda dan bukan suatu
     pribadi. Ia belum bisa bermain "dengan" anak lain dalam arti yang
     sesungguhnya. Oleh karena itu, dalam bermain dengan anak-anak
     lain perlu pengawasan dari orang dewasa supaya tidak saling
     menyakiti satu dengan yang lain.

  3. Suka mengatakan "tidak" dan memang dalam usia ini anak sedang
     berada dalam masa/tahap "menentang". Selain itu anak juga
     seringkali "menguji" lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
     Anak-anak perlu mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh
     dilakukannya. Kadang tingkah laku mereka yang paling mengganggu
     pada hakekatnya merupakan suatu usaha untuk mengetahui apa yang
     boleh atau tidak boleh dilakukannya - mereka senang melakukan
     eksperimen. Oleh karena itu orang dewasa harus tegas, jika perlu
     berikan penghukuman ringan untuk kesalahan yang dilakukan supaya
     mereka tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah.

  E. CIRI KHAS SECARA KEROHANIAN
  ------------------------------<
  1. Meniru tingkah laku orang dewasa, termasuk juga sikapnya
     terhadap Tuhan. Untuk itu selain mengajar kebenaran Alkitab,
     berilah juga contoh yang tepat. Banyak kebenaran yang tak dapat
     dipahami, namun dapat dirasakan. Sikap dan tingkah laku guru
     harus membuat mereka memahami arti hidup yang beribadah kepada
     Tuhan. Misal: sikap dalam berdoa, dalam berhubungan/berbicara
     dengan orang lain

  2. Anak juga memiliki kebutuhan rohani. Ia dapat memahami kasih Allah
     dan hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Namun demikian tidak
     mudah menjelaskan pertanyaan "seperti apakah Allah itu". Oleh
     karena itu orang dewasa perlu menolong mereka untuk menyadari
     keberadaan dan keterlibatan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
     Dengan demikian mereka akan belajar bahwa sekalipun Allah tidak
     dapat di lihat tapi Allah ada dan dapat dirasakan karena Allah
     juga sayang kepada anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar